Posting Berikutnya!
Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^
Jangan lewatkan !!
Siang ini, sesampainya aku di jakarta, tiba-tiba dikejutkan dengan wajah Mandy Moore di layar televisiku. Sudah lama rasanya tidak melihat wajah yang melow di kisah romantis "A Walk To Remember" ini.
Judul film ini, semakin mengundang tanya tentang filosofi cinta yang ingin disampaikan film non-serius ini. Dan mandy tampil berbeda dengan rambut gelap dan badan berisinya.
Mandy memerankan seorang terapis pernikahan bernama Ava Dalton. Ava yang serba dikenal sempurna dalam pernikahannya, harus panik dan terobsesi ketika mendengar bahwa ayah ibunya terancam akan bercerai.
Dialog pertengkaran Ava dan suaminya, Charlie.
"Siapa yang kamu perjuangkan, aku atau pernikahan kita?"
"Bukankah itu sama saja?"
"Tidak. Itu berbeda. Kamu memperjuangkan pernikahan kita terlihat sempurna agar orang lain membenarkan terapi yang kamu berikan pada mereka."
Dialog Ava dengan ayahnya.
"Ibarat anggur terbaik.
Dia tidak diberi air, melainkan diberi panas matahari terus menerus. Untuk memisahkan yang terkuat dari yang terlemah. Cinta terkuat bertahan di saat terburuk... "
Dialog Ava dengan adiknya yang badung, Shelby.
"Aku tahu ava dalton tidak sempurna dan aku mengetahui itu selama 25 tahun kita bersaudara, dan kurasa kau harus membiarkan orang lain mengetahuinya."
Published with Blogger-droid v2.0.4
»» read more

Melihat kelucuan dan kelincahan seorang gadis kecil bernama Ramona ini benar-benar mengingatkanku akan sosok Mei dalam anime Tottoro. Lucu, energik, dan hiperaktif...
Entah bagaimana, apa yang disentuh dan dikerjakan si kecil Ramona selalu berujung pada keonaran dan kekacauan. Tapi si kecil Ramona tidak pernah berkecil hati. Dia selalu terobsesi akan pemadam kebakaran.
SCENE FAVORITKU ?
Ditemani ayahnya yang pengangguran karena baru kehilangan pekerjaannya, Ramona menggambar dengan krayon warna, diatas gulungan kertas yang disebutnya gambar terpanjang di dunia.
SIAPAKAH BEEZUS ?
Berbeda dengan sang adik (Ramona), Beezus adalah remaja cantik yang sangat manis. Beezus seringkali menjahili adiknya, tapi ia selalu mengagumi spontanitas dan keberanian Ramona.
© widyarin kusumaningtyas
Published with Blogger-droid v2.0.4
»» read more
Hari ini aku merasa sangat beruntung... Akhirnya aku akan punya kesempatan lebih dalam menulis blog atau miniblog.
Hari ini, aku mulai ditemani android mobile. Dengan kepraktisan dan kemampuan teknologinya, aku bisa memiliki peluang lebih baik dalam menuliskan rekaman cerita dan imaji yang kupunya.
Kawan pembaca, bisa dibilang untuk saat-saat belakangAn ini, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku di tumblr blog. Mungkin karena fitur social networknya lah yang banyak memberi kemudahan dan kesempatan luas untuk berinteraksi.
Salam sore kawan, semoga senja kalian dan hari hari setelahnya, menjadi hari-hari terbaik kalian juga.
Published with Blogger-droid v2.0.4
»» read more
-----
Jika ada satu orang yang kudengarkan menyatu dalam aksinya dan profesinya, aku mengagumi Bonita juga lho. Dia punya suara yang menularkan kesejukan dan kehangatan, dia juga punya keluarga yang terekspos dengan ketulusan. Bonita, lagu Pram yang ini sungguh sering menjadi penghantar tulisan-tulisanku. ^__^
------
Terbayang tidak? Seandainya kita bisa menemukan apa yang paling membuat kita bahagia dalam melakukannya. ENtah itu hobi atau karir. Jika kita bisa menemukan hasrat di atasnya, maka terpancarlah energi yang berkali-kali lipat sebagai hal positif. Tanpa berusaha dengan terlalu terkesan berusaha, kita bahkan mampu menghipnotis pendengar kita seolah sukacita menceburkan diri mereka pada dunia kita. Imajinasi kita yang liar merayu mereka, dan energi penjiwaan kita yang menggebu seperti mengajak mereka bersenang-senang dengan dunia kita.
-----
Aku selalu ingin menjadi seperti itu. Aku selalu ingin menjadi yang berkisah dengan sepenuh hati. Aku selalu ingin bisa mengeluarkan apa yang aku pikirkan di kepalaku, yang aku degupkan di debaran hati ini, dan apa yang memompa jantungku semakin cepat di dada ini. Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa selain siapa aku sendiri. Ingin bisa menyampaikan bahwa aku adalah ratu atas sebuah dunia. Bahwa aku memiliki dunia kekuasaan yang pantas disinggahi. Aku ingin sepenuh hati mengenalkannya tanpa takut. Aku ingin menjadi ada dan berarti, untuk sebuah dunia, apapun dunia itu.
-----
@wiedesignarch
-----
"Kesulitan tak pernah menjadi sesulit ini manakala hati ikut menjadi partner dalam menjalaninya" | Adenita; 23 Episentrum; Hal:16.
»» read more
Sesuatu yang aku sadari dengan tulisan postinganku belakangan ini. Kadang dimulai dengan ngelantur, kadang pulang dimulai dengan kata acak. Yeah well, bisa dibilang, ini sangat diluar pola menulis posting yang biasa aku lakukan.
---
Pernahkah kalian membayangkan, aku selalu membawa kertas kecil dan drawing pen ketika di angkutan umum. Aku mencoret-coret bubble skematik tentang hulu dan hilir dari setiap tulisan pendekku. Segala dimulai dari sebab dan alasan, lalu terbentuk suatu keputusan dan tujuan di ujungnya. Bulatan/bubble, tanda panah, dan garis bawah; secara serius aku coretkan membentuk skema di kertas kecilku.
---
Tapi entah sejak kapan baru-baru ini, aku melepasnya sama sekali. Tidak ada kertas, atau drawing pen. Yang ada hanya layar hape atau laptop, yang bisa kuisi dengan apa saja kata-katanya. Dan satu lagi, aku mem-peka-kan diri pada tulisan buku dan subtitle film-film di channel TV. Mungkin ini bukan cara pintar sama sekali, tapi justru itu bagusnya. Aku mengikhlaskan diri menjadi bodoh kembali. Menyerap sekuat-kuatnya, tanpa ketakutan akan salah yang ditemukan pembacaku nantinya. Bisa dibilang, aku sedang bosan menulis kebenaran menurut kotak-kotak persepsi pembaca. Menulisku, adalah caraku membuka semua pintu yang selama ini aku tutup rapat demi menjadi terlihat pintar.
---
"Membiarkan harinya berjalan tanpa dikejar waktu. Ia berdoa agar perjalanannya kali ini bisa mencerahkan hatinya. Ia sudah berjanji akan memberikan perhatian kepada apapun yang ada di dekatnya. Ia akan berbicara pada orang yang tak dikenalnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Terkadang berbahaya memang bicara pada orang tak dikenal. Tapi justru pada saat itulah, hati akan belajar melakukan sensor." | Adenita; 23 Episentrum; Hal:97.
»» read more
Pernahkah kita merasa, bahwa kita terlalu mudah menebak kegiatan hidup kita, kemudian mulai terbiasa untuk nyaman dengan perolehan kita setiap harinya. Entah itu perolehan jasmani, ataupun perolehan peningkatan eksistensi sosial.
Kita menjalani hari, dengan lebih mudah mengontrol waktu 24 jam, lebih tepat mengetahui cuaca lewat ramalan, dan lebih uptodate dalam penyerapan informasi dan komunikasi. Dan tanpa sadar, semua jadi seperti sudah tersedia di depan mata. Kita pun, terbiasa untuk beradaptasi dan menjadikannya sebagai rutinitas tanpa kejutan.
Dalam kondisi nyaman seperti itu, pernah terpikir bagian apa dari diri kita yang semakin lapar dan melemah? Ia adalah hati, nurani, dan insting berjuang. Bahkan, dramatisnya, hati dan nurani paling rapuh itu, terbungkus kebutuhan jasmani yang berlapis-lapis. Bayangkan, setiap hari kita semakin bisa mengatur kebutuhan duniawi, dan kita semakin bisa mengkalkulasikan pemenuhannya di setiap tingkatan. Orang miskin semakin memenuhi kebutuhan hidupnya (dalam hal ini adalah nyawa), dan orang kaya semakin rajin menghitung investasinya yang berpangkat-pangkat.
Hati, benda itu bernama hati. Benda itu, berdetak dan semakin melemah. Ia lemah karena kenyamanan dalam bungkusan benda lain. Ia lemah karena tidak menggunakan syaraf-syaraf keikhlasan tentang gagal dan jatuh. Ia lemah karena tidak menumbuhkan syaraf perduli dan peka pada hal-hal sederhana. Benda bernama hati itu, kini seperti janin yang tertidur kembali dalam rahim tebal bernama kemapanan, bernama kebutuhan raga.
Hati kita, patut diajak berdialog. Diajak bercengkrama dan berdebat. Perdebatkan ia dengan kekritisan dan uji kepekaan. Kenapa manusia kini lebih pandai berpolitik dan mendebat atas nama negeri, sementara mereka tidak pernah memperdebatkan batinnya, nuraninya. Bukankah hati lebih dulu datang sebelum kebutuhan. Bukankah hati juga yang lebih dulu datang sebelum kematian? Hati, ajaklah ia lebih sering ke kancah pertunjukan. Lemahkan ia sesegera mungkin. Dan kuatkan ia sesering mungkin. Karena dengan mudah ditebaknya perjalanan menit ke jam, hati menjadi malas dan tertidur. Perlahan, kita tergantikan oleh robot dan program. Yah, mereka efisien, dan tidak mengandung kesalahan / kriminal emosi.
"Mungkin... gue perlu orang yang bisa mencairkan hati gue yang udah keras ini. Gue perlu melihat lebih banyak. Mendengar lebih banyak." | Adenita; 23 Episentrum; Hal:96.
»» read more
kata kata, selalu mengandung makna yang tidak bisa dihentikan pada jumlah angka, atau juga jumlah huruf itu sendiri... kata-kata, adalah hal yang membuat kita mensyukuri dunia ini dan berani menghadapi dunia ini...
---
@wiedesignarch
»» read more