Posting Berikutnya!

Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^

Jangan lewatkan !!

Thursday, September 22, 2011

Letih Mencari



Spend all your time waiting
For that second chance
For a break that would make it okay
There’s always one reason
To feel not good enough

Senja ini, usiaku kian terasa sepi. Ada yang hilang dari kehidupan yang tengah kuselami. Aku berharap akan cerahnya hari, namun tak bisa kutemukan cahaya yang mampu menerbitkan bahagia. Hanya rindu, kehilangan, dan sungguh hari tak pernah berseri.


And it’s hard at the end of the day
I need some distraction
Oh beautiful release
Memory seeps from my veins
Let me be empty
And weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

Ketika jingga warna senja mulai mengintip sela jendelaku, terbit sedih yang menguasai hati. Kemana kah akan kubawa hari yang terlalu sunyi ini. Kadang malam yang menjemput pun seperti tahu aku hanya singgah karena tersesat. Aku menunggu apakah gerangan? Begitu bintang dan bulan bertanya padaku dibalik bingkai jendela. Malam yang sunyi, namun tak jua kuhiasi dengan keceriaan. 


In the arms of an angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort there

Aku sering menuliskan beberapa sajak, tentang kebebasan dan terbang tanpa batasan. Namun tak juga tujuan nampak terlihat jelas. Samar selalu seperti terlalu jauh menyeberangi horison. Aku dan kebebasanku seringkali terlalu letih menduga-duga di manakah ujung semua harapan.




»»  read more

Wednesday, September 21, 2011

Pujian dari Swiss atas Fotografiku



Hari ini, setelah sekian lama vakum submit karya di Deviantart, akhirnya terkejut sekali dapatkan inbox dari fotografer di Swiss. 
Ia bernama facebook Lucien Wittwer dengan akun deviantart ~wikss.
Inbox ini mengejutkan sekali, terutama karena memang tidak berharap akan ada audience yang ngeh untuk submit2 yang baru aku lakonin, hehehe

==========================
Hello how are you?
it's been a while since I look at your work and It's really amazing I just saw your work and I think it's really a nice work, the frames are very well controlled and done with great talent, the colors are really beautiful, I also find that you feel much beauty and emotion in your work is very impressive and it makes you unique. People like you are rare and deserve more page views and I congratulate you, you deserve to go far into photography because you have a real tallent it touches me deeply, I'll watch your gallery again with great joy and pleasure!
What you create is very interesting, informative and beautiful, its going to help me a lot in my work to see people like you with so much talent ! continue to dream of anyone!
Here is my fan page on Facebook
[link]
Come look at my pictures and if you want, why not click [Like] of course only if you like!
Thank you for the joys of your work, I often come to see them!
Good luck, remember that you have talent!
And sorry for my English I'm Swiss, so I have a little trouble with this language! : D
Congratulations to you!
[Sorry it is possible that sends the message 2 times!]

==========================

So? buat rekan yang tertarik juga untuk lirik potret2ku di deviantart, bisa di klik di sini ^____^
»»  read more

Tuesday, September 13, 2011

Usia 100 Tahun untuk Egois



Jika kita hidup hingga 1000 tahun, maka kita bisa menggunakan :

100 TAHUN UNTUK EGOIS

"Tak perduli orang lain, yang penting saya enak, yang penting saya mendapatkan apa yang saya mau. Jika ada yang bilang saya harusa sadar untuk berubah, maka akan saya bilang : "Gak papa, begini aja.. karena hidup saya masih 900 tahun lagi kok!"

=======================================

Hari mematikan video motivasi itu seraya merebahkan dirinya ke sofa hijau di apartemennya. Hari memainkan remote DVD Player seraya menikmati hening dan sunyi langit-langit kamarnya. Apartemen itu begitu sepi dan tak ada pandangan menarik selain kumpulan awan dan langit terik di luar jendela lantai 20.

Rasanya aku telah begitu dekat dengan langit, rasanya aku telah banyak mendapatkan kenyamanan langit dan sendiri. Hari mulai merangkai cerita mengukir sendunya menemani sunyi. 

Di ketinggian dan kesendirian cakrawala seperti ini, ternyata semakin menjauhkanku dari hiruk pikuk perjalanan. Aku semakin diam dalam hitungan meter persegi ku berjalan, duniaku semakin sempit oleh dinding-dinding yang membatasi. Aku semakin sulit berbaur dengan milik orang lain, sementara orang lain seperti tak perduli dengan sunyinya rumahku.

Hari bangkit berdiri, celana pendeknya tergerai di atas lutut kurusnya. Dia berjalan meraih gagang pintu geser di dekatnya. Berdiri keluar, meraih pegangan balkon apartemennya. Diedarkan pandangannya sedih ke arah bawah.

Kerdil sekali, kerdil sekali dunia di bawah sana. Mereka berlalu lalang dengan segala amanah tentang menjalani hari dan hidup. Di bawah sana begitu banyak emosi dan ketertarikan. Sedang aku di atas sini justru lebih dekat ke langit, tempat doa bermuara dengan tengadahnya kepala. Namun sepi di sini menghempaskanku bahwa setelah tanah, tubuh ini takkan bersama siapapun lagi. Tubuh ini sendiri dan lemah tanpa kemampuan menghentikan perputaran waktu meski kekerdilan semakin jauh dan bisa ditinggalkan di bawah sana.

Hari tertunduk perih, bukan karena galau atau sendiri lagi kini. Melainkan karena jantung yang ia miliki semakin terasa perlahan meninggalkannya juga. Hari, pemuda berkulit halus bersenyum pangeran. Namun jantungnya takkan mampu menyelamatkan dirinya dari ancaman sekarat. Hari memegang dadanya erat, sakit kesekian kalinya ini pasti bisa ditahan. Entah untuk berapa lama lagi Hari akan menjalani hari esok. Hari ada, di hari yang tak pasti akan ada lagi untuknya. Itulah mengapa, Hari tak bisa berkeinginan untuk egois. Hari tahu, harinya akan datang. Harinya akan ada untuk dia menjawab semua keinginannya di bumi. Hari...
»»  read more

Monday, September 12, 2011

Kita Mesti Telanjang



Aku meraih buku catatan warna merahku dari bawah bantal. Perutku seperti mendadak perih dan aku terduduk di lantai sebelah ranjangku. Kubuka lembaran catatan buku itu. Halaman pertama, air mataku berderai satu. Aku duduk seperti posisi berdoa di lantai. Tanganku masih lemah meraba tulisan catatan di atas ranjang. 

"Dalam kekalutan.. Masih banyak tangan yang tega berbuat nista"

Ujung jariku berhenti pada satu baris itu kini. Sakit yang semula terasa biasa, kini terasa sesak di dada. Dengan waktu yang telah aku jalani, akhirnya aku harus menyadari bahwa aku mendustai diriku sendiri. Satu air mataku itu menetes di catatan. Aku telusuri basahnya dengan ujung jariku pelan. Basahnya jatuh di baris tengah : 

"Kemanakah lagi, kita akan sembunyi." mataku bergerak ke baris lainnya "Tak ada yang bakal bisa menjawab". Bibirku basah dan kerongkonganku mulai terasa sakit. 

Aku bertanya apa gerangan yang menggelayuti fikiranku kini. Seperti ingin mengatakan kesia-siaan dan kebosanan belaka. Apakah aku mulai dikutuk dengan keputusasaan? Aku mulai menutup catatan itu dan menidurkan keningku di atas ranjang. Lantai masih terasa dingin di lututku, tapi aku masih enggan berbaring. Akhirnya aku mulai berdialog pada hatiku sendiri. Gerangan apa yang menggerogotiku di teriknya hari ini. Udara panas di luar. Deburan ombak pantai di kejauhan. Dan semilir meniup pohon kelapa di pelupuk atap rumah. Sementara ranjangku begitu sesak oleh perasaan bersalah dan mengeluh.

Jika dialog hati kuteruskan, akhirnya aku putuskan untuk diam sejenak tanpa merubah posisiku. Kubiarkan semua kram kaki dan sesaknya dada mendesak kritis pertanyaan-pertanyaanku. Apa yang sedang aku perbuat sekarang? apakah aku mengeluh? apakah semua yang sudah diperbuat adalah sia semata?

Aku pejamkan mataku dengan aroma apek sprei ranjangku yang semakin menusuk. Aku merasa sia-sia, ternyata bukan karena aku telah menyia-nyiakan mimpi dan impianku. Bukan juga karena aku tak percaya pada kemampuan dan imajinasi yang aku punya. Melainkan karena aku telah menjalani waktu yang aku punya dengan terlalu banyak kehilangan. Aku telah terlalu banyak kehilangan karena melewatkan waktu-waktu yang seharusnya bisa kuisi dengan lebih berani. Berani kecewa, berani merasa sakit, berani merasa kalah. Terlalu mulus jalan yang pernah aku pilih sebelum ini. Kemulusan ini meresahkanku, dan kenyamanan ini semakin menakutkanku.

Apa yang salah dengan menjadi telanjang? apa yang salah dengan menjadi hinaan dan cemoohan? sementara mimpi adalah sahabat orang-orang yang jatuh. Mimpi adalah dekat bila mereka berani menemukan jalan buntu. Aku bertaruh, terlalu banyak jalan buntu yang aku lewatkan. Sementara aku sempat lupa, jalan buntu mampu menguatkan langkahku, jalan berlubang mampu mengobarkan pendewasaanku, jalan gelap sekalipun mampu menjadikan aku melihat lebih banyak.

"Dalam kekalutan.. Masih banyak tangan yang tega berbuat nista"

Bahkan dalam menghidupi nyawa diri sendiri, kelalaian dan kemalasan kita sendiri pun bisa hadir secara tak sadar. Lewat pembelaan dan bantahan, lewat pembenaran dan alasan, kita terlalu banyak menghalalkan diri dengan ketidakberdayaan. Merasa tak sanggup padahal belum mencoba, merasa tak sempat padahal malas berfikir ulang, merasa tak perduli padahal kita sebenarnya ingin memperbaiki banyak hal tentang diri kita. Kenistaan dan ilusi, seperti semakin kentara dalam definisi menjalani hidup. Rasanya seperti dihempas, dan diberitahu, bahwa memang bumi beserta isinya ini hanya ilusi yang tak kekal.

Dalam keletihan dan kemarahan yang sangat, aku membuka lagi lembar catatan buku merahku itu. mataku kini bertumbuk pada kalimat paling pendek.

"adalah DIA di atas segalanya"

Aku terkejut membacanya. Seperti siraman sejuk yang aneh tapi mampu menguatkan tengkuk leherku menengadah. Aku edarkan pandanganku dengan cepat ke seluruh kamarku. Satu hal, entah bagaimana datangnya kekuatan yang menggerakkan arah mataku, satu hal yang kucari-cari. Dan di sanalah dia, sebuah kitab bersampul hijau dan kuning keemasan. Biarlah mereka menulis ironi tentang dosa. Biarlah mereka mengucap ironi tentang ampunan. Tapi kini, aku tahu juga. Aku tak mengenal diriku lebih baik dari siapapun. Bahkan tanpa sadar, aku masih terseok di dalam tubuhku sendiri.
»»  read more

Wednesday, May 25, 2011

Blora Sang Pramoedya - Sepotong Biografi




Judul Buku :
Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali
Penulis Buku :
Koesalah Soebagyo Toer
Bab Buku :
Rumah Blora


:::::::::: ::::::::::: :::::::::::
RUMAH BLORA

"Mas Pram setuju tanah dan rumah itu dijual?"
Saya tanya demikian karena selama ini ada dua hal penting yang selalu dipendamnya sebagai keinginan, harapan dan cita-cita :

Pertama, ia ingin mengabadikan rumah dan tanah itu sebagai museum, untuk mengenang jasa-jasa dan juga mengabadikan nama Bapak. Menurut dia, orang Blora sekarang justru melupakan sama sekali jasa Bapak. Ia bahkan sudah pernah memberikan gambaran, "naskah-naskah nanti akan saya simpan di sana, termasuk naskah-naskah yang saya temukan.

Kedua, ia ingin kembali ke tempat itu di masa tuanya. Hal itu pernah dikatakannya sendiri kepada saya. Ia bayangkan, ia akan tinggal di sana tanpa keluarga. Dari sanalah ia akan mengirim nafkah kepada keluarga, dan di sana ia akan bekerja. Memang selama ini saya rasakan, ia menyimpan rasa akrab kepada Bapak dan Ibu, sekalipun ia mengatakan bahwa dirinya dendam kepada Bapak karena perlakuannya yang tidak adil terhadap dia. Mas Pram pun, menurut saya, merasa dekat dengan Blora sebagai tanah air yang menyimpan banyak kenangan. Hal itu dibuktikannya dengan banyak karya tulis, mulai dari "Pelarian yang Tak Dicari", Perburuan, sampai yang terakhir "Sang Pemula".

:::::::::: :::::::::: ::::::::::

Babak Rumah Blora yang menjadi rumah tinggal Pramoedya Ananta Toer ini merupakan sepenggal dari banyak kisah sang adik, Koesalah Soebagyo Toer. Buku ini memiliki daya tarik tersendiri untuk membacanya melalui kepingan-kepingan cerita pendek tentang setiap sudut hari kehidupan sang Pramoedya. Buku ini begitu gamblang menceritakan keseharian dan keluhan  tak terjamah dari sang Pramoedya Ananta Toer. Dari buku ini lah ditemukan kisah tentang amarah, kekesalan, ketidakadilan asuhan bapak, dan penyakit yang menyerang dari sosok Pemenang Nobel ini. Memang benar judulnya berkata, serasa Dekat Sekali melihat sosok besar Pramoedya di dalam buku ini. Sebuah cara perkenalan yang berkesan untuk saya mengenali beliau.
»»  read more

Tuesday, May 24, 2011

Bangunan Komunal di Lereng Vietnam

Architects:
Hoàng Thúc Hào, Nguyễn Duy Thanh
Architects and invester:
1+1>2 Group
Location:
Suoi Re village, Luong Son, Hoa Binh province, Vietnam
Project year:
2010
Photographs:
Courtesy of Kien Viet

  
Desa Suoi Re di Vietnam ini dihuni oleh penduduk yang lebih banyak bekerja mencari nafkah di kota, selebihnya tetap tinggal di desa untuk bertani dan mengurus rumah mereka. Kalangan masyarakat di desa ini hampir tidak sempat untuk memikirkan pendidikan, kebudayaan, dan kebutuhan spiritual mereka serta putra-putri mereka. Sehingga tidak banyak ditemukan adanya tempat kegiatan publik, sekolah, pusat kesehatan, perpustakaan dan bangunan fasilitas lainnya. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali dan hanya bersifat sementara dan identitas semata.  


Bangunan yang diharapkan menjadi solusi berkelanjutan yang mengangkat isu kearifan lokal ini pun terbangun sebagai "rumah multifungsi". Bangunan dengan material lokal dan nilai budaya setempat ini dibangun dengan lokasi yang seolah "bersandar" pada gunung. Karena akan menjadi tanggap akan resiko badai, banjir bandang, dengan muka / fasad bangunan ini menghadap lembah gunung. 


 
Di lantai dasar, penduduk desa dapat berkumpul melakukan kegiatan di lapangan di dekatnya. Lantai dasar ini dirancang menyesuaikan dengan cekungnya lereng gunung sehingga panas bumi dapat dimanfaatkan dalam bangunan. Lalu terdapat beranda luas dengan elemen "bantalan" hijau rerumputan sehingga menyejukkan kualitas pandangan ke luar bangunan. Bangunan dua lantai ini pada tengahnya berfungsi sebagai kelas TK, perpustakaan, ruang pertemuan. Antar ruang-ruang tersebut, dan antar lantai-lantai tersebut, terdapat fleksibilitas tinggi dikarenakan minimnya pembatas-pembatas permanen. 


Ada hal menarik tentang bangunan ini jika dikaji dari kecerdasan lingkungannya :
  • Terdapat terowongan angin dan ruang terbuka berbentuk elips untuk penghawaan di dalam bangunan
  • Bentuk rumah dirancang mewarisi bentukan rumah tradisional lokal dengan konsep struktur panggung, ikat, dan bambu.
  • Lantai dasar dibuat dari batu kasar, pintu dan langit-langit dari bambu sebagai fungsi penghangat ruangan
  • Penutup atap dibuat dari daun kelapa
  • Dimanfaatkan sistem sel solar, tangki penampung air hujan, septiktank lima kompartemen yang bersih dari kontaminasi satu sama lain, hemat energi.
»»  read more

Monday, May 23, 2011

Ketika Angan Mulai Menyerangmu




“Kwatrin Tentang Sebuah Poci”
Karya : Goenawan Mohamad
=== === ===

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973

————————————————-

Ini adalah satu dari sekian sajak Goenawan Mohamad yang digubah oleh komposer Tony Prabowo.

Teman? Bagaimana apresiasi kalian tentang karya sastra Beliau di atas itu? Hm, sebuah fakta adalah, memang kita seringkali terlalu betah berlama-lama dengan angan-angan dan konsep yang kita bangun akan sosok seseorang. Angan-angan tentang seseorang bisa membuatmu lumpuh dan logikamu melenyap begitu saja.

Aku pernah patah hati. Yeah, sama seperti kalian. Tapi kini aku paham apa kata Mario Teguh, bahwa cinta itu hanya akan indah dan pantas dirasakan oleh hati yang dewasa. Karena jika terlalu cepat, cara kita mencintai lah yang akan melukai diri kita sendiri, bukan orang yang kita “cintai” itu.

»»  read more
My Room (25) Ribet (18) Teman2ku (18) Bacaanku (15) Curhat (12) Jalan-jalan (11) Quote (10) Islamic (9) Love (9) Arsitektur (8) Bioskop (8) MyProsa (5) Bernyanyi (3) Memotret (3) Year Ended (3) Design (2) Movie (1) UlangTahun (1)

Recent Comments

My Photo
Panggil aku Wiwied.... Namaku sederhana, tapi sayang isi otakku gak sesederhana itu... Seringkali aku bingung dan seperti ketemu benang kusut.. ^__^ Aku punya rutinitas, punya hobi, tapi aku juga punya hasrat/passion yang kurang fokus... Semua adalah hal menarik buatku.. Dan proses adalah segalanya buat aku, tubuhku, fikiranku, dan jiwaku... Aku punya banyak sekali blog, karena keterbatasan kemampuanku merangkum semuanya dalam satu wadah. Dan juga karena aku cenderung moody dan cepat merasa bosan. Di blogger world ini, aku cuma ingin merekam karya, merekam persahabatan, dan merekam proses kehidupanku. Semoga semua bersedia berbagi bersamaku dan blogku. ^_^