Posting Berikutnya!

Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^

Jangan lewatkan !!

Tuesday, March 29, 2011

When I Was [not] A Kid


I am smiling... =D
I am remembering that time when I was a new-born soul.. When I was kid.. Never seemed to shy for asking everything... I was proud of my childish, been a nice kid on my journey.

I was jumped around you, and hey you recognized me on some funny ways. Then I was starting to feel such a kid's feelings. That I found my new-daddy.. Was that the first time, I was happy as a kid, pretending and laughing around that you're my dad.


I remember, I never felt so lame or insane, just because I have my curiousities. Poking you, singing you a song lyrics of my favourite, outloud on your wall and notes. Just expressed how I was happy coz I met you. And always I sang you a song, how I want to get your attention. I knew then, I liked you more.


I kept sang happily, I kept acted childish spontaneusly, I kept annoyed you lovely, I was clinged and your laughing was only my intention of this my childish habits. That time of my kid-journey, was lovely and spiritful.


Then, you got me on my stubborn. I lend too much on you that kid's time. But, hey I didn't get that as unforgivable things. Cos I was insanely into you my imaginery dad.. =D


Your patience, my stubborns, seems so lovely poem to be written on my new diaries of life. Made you been annoyed by me, was the only time I was looking forward. In every day then, I just flew away for everyways you responded.


Lovely moment that I had made you came in my memories. In such a funniest way I could imagine. Even it made me looked insane, in a funny way, I was happy for that chances. It was! I enjoyed been a kid, who just told you how I was admiring you and trying hard to get your responds.


It was when I was the kid, and you're my daddy. And gived that kid's name and how insane, that kid pretend how her daddy would be her real dad.
»»  read more

Thursday, March 24, 2011

Apakah Kita Benar Melihat


 
Sahabat, kali ini fikiranku kian melambung menjelajah dimensi waktu di sini. Kepingan cerita tentang bacaanku, cerita tentang aku, dan cerita tentang tokoh nyata lainnya, kian berhamburan di kepalaku ketika aku memandang layar catatan yang masih kosong ini. Berharap bisa menuliskan pengenalanku, tentang sebuah makna penglihatan bagi seorang yang berbeda dariku. Mengapa ia berbeda, karena ia tidak melihat dunia seperti aku, dia tidak memiliki penglihatan mata atau buta.

Kusebut satu buku ditulis oleh Tere-Liye, berjudul Semoga Bunda Disayang Allah.
Gadis kecil itu berusia enam tahun
Dengan rambut kriting ia pun berlari dengan pipi merah
Menggemaskan melihat langkahnya yang mengayun
Tapi tak ada yang mengira, ia buta, ia tuli, dan karenanya ia pun bisu
Anak kecil dalam cerita itu bernama Melati. Sepanjang hari di rumah, dengan pengawasan ibunya, ia hanya punya dua kata yang keluar dari mulutnya, yaitu “baa…” dan “maa..”.

Kita tentu ingat tentang satu masa kanak-kanak kita, ketika kita bisa meniru anak lain untuk menangis jika permintaan konyol kita tak dituruti orang dewasa itu.
Bagaimanalah Melati hendak menangis ketika ia tak dituruti
Sedang matanya takkan pernah bisa melihat wajah kanak-kanak semumurnya
Yang asik mengeluarkan airmatanya demi memperoleh keinginannya

Kita tentu ingat tentang satu masa itu, ketika kita berbuat baik dan bersikap manis seperti yang diajarkan orang dewasa, demi sebuah hadiah dan bingkisan sayang yang didapat setelahnya.
Bagaimana pula Melati hendak bersikap baik dan menyenangkan
Sedang telinganya tidak pernah bisa mendengar pujian
Sementara teman seusianya, asik mendengar lagu dan tawa memuji sikap baik mereka

Kita tentu ingat tentang masa kecil itu juga, ketika kita begitu ketakutan mendengar suara kaca atau piring yang pecah berbentur lantai. Kita begitu terkejut karena sensasi takut bahkan merasa trauma untuk bisa seceroboh itu di waktu setelahnya.
Tetapi tidak demikian dengan Melati yang tak melihat dan tak mendengar
Bagaimana pula ia hendak merasa sensasi takut karena suara memekakkan telinga
Ia lempar dan pecahkan banyak kaca dan piring, menyangka benda itu tak bereaksi sama sekali padanya

Kita selama ini patutnya bersyukur, Tuhan rupanya telah memberi kita bentuk kemudahan dalam mengakses ragam komunikasi itu. Kita tidak pernah segan untuk menarik perhatian dari orang tua kita dengan macam perbuatan baik. Kita bahkan sibuk membuat orang tua kita mengerti kemauan kita dengan merajuk. Dan mungkin kita terkurung dalam ketakutan berlebihan tentang tragedi yang pernah kita lihat dan kita dengar tanpa berani melawannya.
Apakah jalur akses komunikasi yang bisa Melati andalkan ?
Bagaimana ia hendak mengenal dunia yang ia huni ?
Bagaimana pula Melati hendak belajar mengenal Tuhan yang menciptakannya demikian ?
Dan apakah mungkin bagi seorang Melati untuk bisa paham apa itu bersyukur dan berdoa ?

Tere-Liye seperti sungguh-sungguh terlahir dan ada pada sosok ceritanya di buku ini, yaitu seseorang bernama Karang. Sungguh pemuda itu ingin menjadikan Melati sebagai kanak-kanak yang  meskipun ia terlahir dengan keterbatasan, namun masih bisa hidup normal dengan keluarga yang menyayanginya di rumah Bunda. Dalam kesungguhannya mengajarkan Melati, ia selalu bertanya banyak hal pada dirinya sendiri.
Bagaimanakah Melati akan memiliki akses untuk belajar berdoa pada-Mu ?
Engkau Maha Adil, dan aku yakin Melati adalah satu tanda keadilan-Mu itu
Lihatlah Tuhan, Melati seperti terputus dari dunia tempat-Mu menidurkannya
Melati tak melihat selain gelap, tak mendengar selain sunyi
Sungguh aku ingin tahu, pasti ada keadilan-Mu pada Melati…

Sahabat… Sekali lagi aku ditakjubkan pada keindahan sensasi mengenali Dia melalui kekaguman pada makhluk-Nya. Melati sebagai contoh sosok bahwa ia mampu mengajari kita mengenali diri kita dari mengenalinya dan keterbatasannya.

Tidak ada ciptaan-Nya yang cacat atau gagal
Keterbatasan itu adalah kehendak-Nya,  tapi bukan produk gagal dari-Nya. Dia sungguh menghendaki keterbatasan itu ada pada makhluk ciptaan-Nya, sebagai penyempurnaan batin dan kebahagiaan baginya. Bukankah hakekatnya, kita semua di muka bumi ini sebenarnya terlahir dengan banyak keterbatasan ? Ketangguhan mereka yang lebih berketerbatasan itu tentunya berkali lipat dari mereka yang bermalas-malasan dengan kemampuannya. Dan bukankah setiap insan dengan bekal (keterbatasan) mereka, memiliki kesempatan bertemu kemudahan melalui sosok seseorang yang dikehendaki Dia untuk bertemu dengannya.
Gelap dan sunyi di sini…
Tapi ini adalah anugerah buatku…
Mungkin memang hanya buatku, gelap dan sunyi adalah anugerah
Sementara mereka yang melihat dan mendengar, Gelap dan sunyi hanyalah bahaya yang menakutkan…

Akses Tuhan mencintai makhluk-Nya, adalah tak terbatas apapun
Jangan kita memandang kasihan dan terluka oleh keterbatasan mereka di depan kita.
Namun lebih baik waspada, jangan pernah terlena dengan kemampuan kita. Karena kita bukan lebih beruntung dari mereka. Kita patutnya lebih waspada dari bermalas-malasan daripada mereka yang berjuang belajar dengan keterbatasan mereka.

-----------------------------------
Quote From Hellen Keller

“As selfishness and complaint pervert the mind, so love with its joy clears and sharpens the vision. “

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved.”

“I can see, and that is why I can be happy, in what you call the dark, but which to me is golden. I can see a God-made world, not a manmade world.”

“Life is a succession of lessons which must be lived to be understood.”

“Many persons have a wrong idea of what constitutes true happiness. It is not attained through self-gratification but through fidelity to a worthy purpose.”

“People do not like to think. If one thinks, one must reach conclusions. Conclusions are not always pleasant.”

“What a blind person needs is not a teacher but another self.”

“What I am looking for is not out there, it is in me.”

“What we have once enjoyed we can never lose. All that we love deeply becomes a part of us.”









»»  read more

Thursday, March 17, 2011

Purnama yang Hampir Sempurna


Bulan semalaman tadi, serupa purnama
Ringkih ranting nan tua seperti menunduk serupa siluet
Malam memeluk dedaunan hijau dengan redup sinar bulannya
Rupanya, mereka berayun pelan menggodaku menikmati purnama

Satu malam, aku menjejaki jalanan malam menuju rumah. Diapit pepohonan tua, malam seperti lebih hangat. Dan benar, langit bercengkrama menampakkan bulan yang hampir sempurna purnama-nya.

Ingatanku tertuju pada buku yang baru kuselesaikan membacanya. Ditulis oleh Tere-Liye, berjudul Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Tiba-tiba, aku terkesiap dengan pertanyaan dari hati kecilku : apakah penikmat bulan adalah pasti seorang sosok yang Romantis ?

Tere-Liye dengan penghayatan menulisnya, melahirkan satu karakter penikmat bulan hingga menjelang ajal di cerita itu. Namanya Ray, penikmat bulan yang gemar menyalahkan tuhan-nya, dan memaki semua kehendak tuhan-nya itu dengan hinaan bertubi-tubi. Tapi, sungguh kalian harus tahu, Ray adalah penikmat bulan yang damai hatinya ketika berlama-lama menatapnya.

Mencari jawaban pada wajah rembulan
Berdialog dan bertanya banyak hal di bawah rembulan
Merangkai ingatan peristiwa sesederhana apapun sambil meraba cekung rembulan

Aku sendiri tidak tahu, apakah seorang penikmat rembulan, selalu adalah sosok romantis. Teringat nabi dan rasul yang senang memandang rembulan sambil memangku tongkat gembala. Teringat juga pemuda-pemuda bijak yang gemar diam mematung di bawah bulan. Apakah mereka sedang merayu Sang Kuasa di sana? Apakah mereka sedang mencintai langit ciptaan ? Ah, aku tidak tahu karena aku belum pernah sungguh-sungguh menikmati rembulan dan purnama.

Bolehlah aku mencuri pengalaman Ray tentang caranya menikmati rembulan. Tere-Liye, sedikit banyak membuatku mengenali kenikmatan itu. Ray dalam buku itu, selalu menemui bulan dalam keadaan yang rumit : marah, gelisah, menyalahkan, merasa tidak adil, merasa hampa, kesepian, bertanya-tanya, dan merindukan seseorang. Emosi yang datang bergantian ibarat roda yang menjejak cepat di jalanan. Penuh ketidakpastian dan pertarungan hidup. Namun anehnya, setelah memandang bulan, purnama ataupun tidak, Ray selalu merasakan sesuatu yang lebih baik. Padahal yang ia temukan bukanlah jawaban atau berhala untuk di-tuhan-kan, melainkan sekedar : Perasaan Damai.

Maukah kamu tahu apa yang ia pertanyakan pada malam ber-bulan itu ?
Apakah cinta itu ?
Apakah hidup ini sungguh sudah adil ?
Apakah aku punya pilihan dalam hidup ?
Mengapa kita harus mengalami sebuah kehilangan ?
Apakah memiliki segalanya, adalah yang paling buatku bahagia ?

Percaya tidak percaya, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh kehendak Tuhan. Aku pun merasa, kita terlahir dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Diingkari ataupun tidak, pertanyaan-pertanyaan itu menghinggapi hati bersih kita. Dan jika pertanyaan itu terjawab, aku mengenali bahwa ternyata ada hati yang damai beriring kesempatan itu.

Sayangnya, kita tidak bisa mempercepat atau memperlambat kesempatan istimewa itu. Bisa jadi, aku sudah mendapatkan jawaban-jawaban itu di masa kecilku, bisa jadi aku mendapatkannya di saat-saat sulitku, atau bahkan (jika itu kehendak-Nya) bisa jadi kesempatan memperoleh jawaban-jawaban itu ada pada masa aku meregang nyawa menjelang ajalku.

Bijaklah menjalani hari, begitu nasehat kaum pemikir dan pemuja.

Gunakan waktumu yang sedikit itu untuk mengingat-ingat mengapa engkau dilahirkan, begitu surat kaum pendidik dan pengasuh.

Dan basahi tiap ucapan dan nafasmu dengan doa dan permohonan, begitulah bisikan halus para penjelajah dan petarung kehidupan.

Mengapa tidak, kita belajar dari mereka yang lebih sempurna pertanyaannya pada rembulan dan purnama.

Pada purnama, aku mencoba meraba wajah Tuhan
Pada kegelapan malam, aku menanam keyakinan
Jika matiku tak bersambut sungai dan pohon surga
Maka, malam purnama manakah yang sanggup aku sia-siakan dari memuji-Mu

»»  read more

Tuesday, March 15, 2011

Menjaga yang Tersisa

Beberapa jam yang lalu, aku selesai menangis terharu. Pemutaran film berjudul "P.S. I Love You" itu telah mengembalikan aku pada berbagai ingatan akan keadaan. Semuanya dalam rentang waktu yang begitu cepat sepanjang menit-menit durasi film, namun bingkai-bingkai kenangan yang tergambar di benakku selama waktu singkat itu justru berlompat cepat dari waktu yang dua tahun lalu. Yah, dua tahun belakangan yang merubah semua ingatan yang aku punya.

Ada satu ungkapan dariku yang terpatri ketika mataku berkaca-kaca di ujung film itu. Aku membayangkan kalimat ini mengalir deras di benakku. 

When you think that you have lost everything, then what made you survive is remembering the rest you have. So could you please not to lose it too much more?

Pernah memiliki ingatan tentang hari kemarin? Pernah mengingat bahwa ingatan itu adalah ingatan indah? Dan pernahkah terpikir bahwa dulu kita berusaha menyingkirkan perasaan tak enak dan tak bahagia, semata agar hanya dapat mengingat kejadian-kejadian yang menyenangkan saja? Pernah berusaha menepis ingatan pahit dan getir, lantas hanya ingin bermandi perasaan bahagia se-lama mungkin kita mampu? Karena teman, aku pun pernah demikian. 
Ingatan memang sanggup menjadi bumerang yang mengukir sekaligus menyayat kita tentang bahagia dan perih kehidupan setelahnya. Ingatan yang semula adalah ingatan indah, bisa menjadi ingatan getir di tahun setelahnya. Ingatan yang semula adalah hambar, bisa menjadi amat dirindukan setelahnya. Dan ingatan yang semula enggan kita ingat karena benci, bisa saja berubah menjadi penyesalan karena kita dulu tak menggubrisnya sama sekali.

Aku bahagia memiliki ingatan. Memori dan emosi yang sempat terekam dalam peluruh penginderaanku, aku pernah memiliki waktu banyak untuk mengumpulkan semuanya. Sekalipun, pernah terpikir bahwa waktu ku takkan banyak untuk bisa melakukannya. Hitung saja, dalam setahun, barangkali hanya satu kali aku bisa mengingat semua cerita lalu ku dengan jelas. 
Di antara sedikit waktu yang aku gunakan untuk mengingat itu, hanya sedikit yang pernah kubumbui dengan syukur dalam hidupku sejak kelahiranku, 26 (dua puluh enam) tahun lalu. Aku beruntung masih memiliki usia ketika aku mengingat semua hidupku dengan syukur itu. Aku beruntung masih mengenangnya dari atas bumi dengan fisik yang tak cacat satu apapun. Entah dengan beberapa tahun ke depan nanti, mungkin ketika aku mulai keriput menua, mungkin ketika aku mulai kehilangan humorisku karena aku mulai menjadi ambisius, atau mungkin ketika nanti aku mulai jadi wanita kaya dengan penyakit komplikasi di mana-mana? Ah, itu masih jauh, aku makin bersyukur dengan kesempatan mengingat (dengan syukur) yang aku punya sekarang. 

Tuhan, kenapa semua kepahitan kau timpakan padaku? Tidakkah cukup semua kehilangan yang aku punya? Tidakkah kau lihat aku cuma meminta sedikit padamu dahulu. Kenapa semua tak bersisa sekarang?
Kalimat doa yang seperti itu pernah aku ucapkan dalam hati. Dalam tidur bergelung dengan air mata kekecewaan. Aku mencari kesalahan dari nasib dan kesialan. Aku tidak bisa bilang kali itu aku adalah Atheis, karena nyatanya aku masih menyalahkan Tuhan yang artinya aku mengakui keberadaanNya. Di saat seperti itulah aku mengingat hal-hal menyenangkan ketika memiliki segalanya. Dan ketika aku makin mengingatnya, aku makin menyalahkan karena ada yang merenggutnya dariku. Aku marah, aku benci ingatan itu. Aku benci mengingat pernah punya semuanya. 
Tuhan, mungkinkah ada tanda yang tidak aku kenali ketika memiliki segalanya itu? Mungkinkan Kau sudah membubuhi macam-macam tanda ketika aku memiliki segalanya kemarin itu? Sedangkan aku hanya tak melihat dan teliti memeriksa tanda-tanda Mu itu waktu itu? akibat terlalu lena kah? Mungkinkah aku yang terlalu bodoh dan lamban membaca tanda-tanda darimu bahwa Kau akan merenggut segalanya dariku?
Begitulah, aku mulai menyalahkan diri sendiri. Awalnya menyakitkan jika harus menyalahkan diri sendiri. Seolah pelan-pelan menyayat kulit sendiri. Perih, kesal, dan merasa kehilangan kepercayaan diri. Menjadikan kita murung akan siapa kita, menjadi aku lebih layu melihat bayangan cermin sendiri yang sia-sia.

Namun, sensasi setelahnya sungguh luar biasa. Aku takkan bisa lupa itu. Sensasi yang lebih bersifat menerima. Bukan mengalah, tapi benar-benar menerima. Aku menerima semua kesalahan datangnya dari aku semata. Yah, jika Tuhan berkehendak apa, memang kita atau orang lain takkan bisa menghentikan. Jadi kini bukan perkara salah siapa lagi. Tapi ketika kita memulai dengan mengakuinya sebagai salah kita sendiri, maka perdamaian berikutnya amat berjalan indah. Aku tak perlu mencari salah siapa lagi, bukan? Aku tersenyum dalam doa ketika menanyakannya pada Tuhan.

P.S. Foto koleksi di ambil di Ciwidey, Bandung Selatan
 
»»  read more

Thursday, March 3, 2011

Kesal Karena Apa ?


Bisa seperti itu?
Bisa begitu?

Rasanya tiap batin ini berusaha bisa kompromi dan mengambil jalan ternyaman dan ter-welcome untuk bisa menampung segala kreasi dan segala petualangan.

Tapi ketika setiap cerita berubah haluan menjadi rutinitas, dan teman berjalan hanya harus jadi seorang yang paling ingin jadi satu-satunya, keinginanku berjalan bersama pun jadi lenyap.

Teringat dulu memang aku pernah lebih buruk darii ini. Dahulu nya aku menutup diri dari segala bentuk ketergantungan seseorang akan keberadaanku. Aku yang dulu selalu menghindari tiap ada yang ingin bersandar pada tangan dan bahuku seterusnya. Aku takut akan kedekatan itu, awalnya kupikir begitu. Tapi perlahan, aku mulai paham sendiri, bahwa aku memang tidak terlalu nyaman dengan kedekatan yang seperti mengharuskan keberadaanku seperti itu.

Aku pelari, karenanya DIA pernah meragukan kesetiaanku, meragukan bahwa aku akan benar-benar tetap ada untuknya. Hingga DIA pergi meninggalkan jejak jauh dariku.

Aku makhluk bebas, karenanya DIA pernah merasa kesal dan tak nyaman aku dimana-mana. Dia ingin hanya aku pasti ada di tempat yang dia mau. Hingga DIA hilang, menjauhkan hatinya dari penderitaan karena tak bisa membelenggu untuknya sendiri..

Aku makhluk penyendiri, tak menginginkan jarak yang terlalu dekat bahkan melampaui dinding rahasia yang aku punya. Dan jujur, rahasiaku bukan untuk menyembunyikan sesuatu dari kamu, jarak yang aku punya bukan untuk membatasi ruang gerak yang kamu miliki. Tapi benarnya, rahasia dan ruang sendiri yang aku simpan sendiri itu, adalah wahana yang nyaman untukku berjalan sekaligus bermimpi, bermain sekaligus merasa terlindung, bercengkrama sekaligus merasa menjadi diriku sendiri.

Tapi, sudahlah,,, yang mengerti entah siapa,,, yang memeluk khawatirku juga entah siapa, yang menelan kesalku juga entah siapa,,,

Aku kesal pun tak tahu terhadap apa,, Rahasiaku yang terusik kah? atau, kamu yang tidak nyaman kah? Aku kesal memang, situasi jadi seperti itu. T_T

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Dibuat tanggal sekarang
»»  read more
My Room (42) Curhat (21) Ribet (21) Bacaanku (20) Teman2ku (20) Quote (16) Love (14) MyProsa (14) Jalan-jalan (11) Arsitektur (9) Islamic (9) Bioskop (8) Memotret (5) Bernyanyi (3) Design (3) Year Ended (3) Akubaru (2) Movie (2) UlangTahun (1)
There was an error in this gadget
My photo
Di blogger world ini, aku cuma ingin merekam karya, merekam persahabatan, dan merekam proses kehidupanku. Semoga semua bersedia berbagi bersamaku dan blogku. ^_^