Posting Berikutnya!

Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^

Jangan lewatkan !!

Thursday, September 22, 2011

Letih Mencari



Spend all your time waiting
For that second chance
For a break that would make it okay
There’s always one reason
To feel not good enough

Senja ini, usiaku kian terasa sepi. Ada yang hilang dari kehidupan yang tengah kuselami. Aku berharap akan cerahnya hari, namun tak bisa kutemukan cahaya yang mampu menerbitkan bahagia. Hanya rindu, kehilangan, dan sungguh hari tak pernah berseri.


And it’s hard at the end of the day
I need some distraction
Oh beautiful release
Memory seeps from my veins
Let me be empty
And weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

Ketika jingga warna senja mulai mengintip sela jendelaku, terbit sedih yang menguasai hati. Kemana kah akan kubawa hari yang terlalu sunyi ini. Kadang malam yang menjemput pun seperti tahu aku hanya singgah karena tersesat. Aku menunggu apakah gerangan? Begitu bintang dan bulan bertanya padaku dibalik bingkai jendela. Malam yang sunyi, namun tak jua kuhiasi dengan keceriaan. 


In the arms of an angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort there

Aku sering menuliskan beberapa sajak, tentang kebebasan dan terbang tanpa batasan. Namun tak juga tujuan nampak terlihat jelas. Samar selalu seperti terlalu jauh menyeberangi horison. Aku dan kebebasanku seringkali terlalu letih menduga-duga di manakah ujung semua harapan.




»»  read more

Wednesday, September 21, 2011

Pujian dari Swiss atas Fotografiku




Hari ini, setelah sekian lama vakum submit karya di Deviantart, akhirnya terkejut sekali dapatkan inbox dari fotografer di Swiss. 
Ia bernama facebook Lucien Wittwer dengan akun deviantart ~wikss.
Inbox ini mengejutkan sekali, terutama karena memang tidak berharap akan ada audience yang ngeh untuk submit2 yang baru aku lakonin, hehehe

==========================
Hello how are you?
it's been a while since I look at your work and It's really amazing I just saw your work and I think it's really a nice work, the frames are very well controlled and done with great talent, the colors are really beautiful, I also find that you feel much beauty and emotion in your work is very impressive and it makes you unique. People like you are rare and deserve more page views and I congratulate you, you deserve to go far into photography because you have a real tallent it touches me deeply, I'll watch your gallery again with great joy and pleasure!
What you create is very interesting, informative and beautiful, its going to help me a lot in my work to see people like you with so much talent ! continue to dream of anyone!
Here is my fan page on Facebook
[link]
Come look at my pictures and if you want, why not click [Like] of course only if you like!
Thank you for the joys of your work, I often come to see them!
Good luck, remember that you have talent!
And sorry for my English I'm Swiss, so I have a little trouble with this language! : D
Congratulations to you!
[Sorry it is possible that sends the message 2 times!]

==========================

So? buat rekan yang tertarik juga untuk lirik potret2ku di deviantart, bisa di klik di sini ^____^
»»  read more

Tuesday, September 13, 2011

Usia 100 Tahun untuk Egois



Jika kita hidup hingga 1000 tahun, maka kita bisa menggunakan :

100 TAHUN UNTUK EGOIS

"Tak perduli orang lain, yang penting saya enak, yang penting saya mendapatkan apa yang saya mau. Jika ada yang bilang saya harusa sadar untuk berubah, maka akan saya bilang : "Gak papa, begini aja.. karena hidup saya masih 900 tahun lagi kok!"

=======================================

Hari mematikan video motivasi itu seraya merebahkan dirinya ke sofa hijau di apartemennya. Hari memainkan remote DVD Player seraya menikmati hening dan sunyi langit-langit kamarnya. Apartemen itu begitu sepi dan tak ada pandangan menarik selain kumpulan awan dan langit terik di luar jendela lantai 20.

Rasanya aku telah begitu dekat dengan langit, rasanya aku telah banyak mendapatkan kenyamanan langit dan sendiri. Hari mulai merangkai cerita mengukir sendunya menemani sunyi. 

Di ketinggian dan kesendirian cakrawala seperti ini, ternyata semakin menjauhkanku dari hiruk pikuk perjalanan. Aku semakin diam dalam hitungan meter persegi ku berjalan, duniaku semakin sempit oleh dinding-dinding yang membatasi. Aku semakin sulit berbaur dengan milik orang lain, sementara orang lain seperti tak perduli dengan sunyinya rumahku.

Hari bangkit berdiri, celana pendeknya tergerai di atas lutut kurusnya. Dia berjalan meraih gagang pintu geser di dekatnya. Berdiri keluar, meraih pegangan balkon apartemennya. Diedarkan pandangannya sedih ke arah bawah.

Kerdil sekali, kerdil sekali dunia di bawah sana. Mereka berlalu lalang dengan segala amanah tentang menjalani hari dan hidup. Di bawah sana begitu banyak emosi dan ketertarikan. Sedang aku di atas sini justru lebih dekat ke langit, tempat doa bermuara dengan tengadahnya kepala. Namun sepi di sini menghempaskanku bahwa setelah tanah, tubuh ini takkan bersama siapapun lagi. Tubuh ini sendiri dan lemah tanpa kemampuan menghentikan perputaran waktu meski kekerdilan semakin jauh dan bisa ditinggalkan di bawah sana.

Hari tertunduk perih, bukan karena galau atau sendiri lagi kini. Melainkan karena jantung yang ia miliki semakin terasa perlahan meninggalkannya juga. Hari, pemuda berkulit halus bersenyum pangeran. Namun jantungnya takkan mampu menyelamatkan dirinya dari ancaman sekarat. Hari memegang dadanya erat, sakit kesekian kalinya ini pasti bisa ditahan. Entah untuk berapa lama lagi Hari akan menjalani hari esok. Hari ada, di hari yang tak pasti akan ada lagi untuknya. Itulah mengapa, Hari tak bisa berkeinginan untuk egois. Hari tahu, harinya akan datang. Harinya akan ada untuk dia menjawab semua keinginannya di bumi. Hari...
»»  read more

Monday, September 12, 2011

Kita Mesti Telanjang



Aku meraih buku catatan warna merahku dari bawah bantal. Perutku seperti mendadak perih dan aku terduduk di lantai sebelah ranjangku. Kubuka lembaran catatan buku itu. Halaman pertama, air mataku berderai satu. Aku duduk seperti posisi berdoa di lantai. Tanganku masih lemah meraba tulisan catatan di atas ranjang. 

"Dalam kekalutan.. Masih banyak tangan yang tega berbuat nista"

Ujung jariku berhenti pada satu baris itu kini. Sakit yang semula terasa biasa, kini terasa sesak di dada. Dengan waktu yang telah aku jalani, akhirnya aku harus menyadari bahwa aku mendustai diriku sendiri. Satu air mataku itu menetes di catatan. Aku telusuri basahnya dengan ujung jariku pelan. Basahnya jatuh di baris tengah : 

"Kemanakah lagi, kita akan sembunyi." mataku bergerak ke baris lainnya "Tak ada yang bakal bisa menjawab". Bibirku basah dan kerongkonganku mulai terasa sakit. 

Aku bertanya apa gerangan yang menggelayuti fikiranku kini. Seperti ingin mengatakan kesia-siaan dan kebosanan belaka. Apakah aku mulai dikutuk dengan keputusasaan? Aku mulai menutup catatan itu dan menidurkan keningku di atas ranjang. Lantai masih terasa dingin di lututku, tapi aku masih enggan berbaring. Akhirnya aku mulai berdialog pada hatiku sendiri. Gerangan apa yang menggerogotiku di teriknya hari ini. Udara panas di luar. Deburan ombak pantai di kejauhan. Dan semilir meniup pohon kelapa di pelupuk atap rumah. Sementara ranjangku begitu sesak oleh perasaan bersalah dan mengeluh.

Jika dialog hati kuteruskan, akhirnya aku putuskan untuk diam sejenak tanpa merubah posisiku. Kubiarkan semua kram kaki dan sesaknya dada mendesak kritis pertanyaan-pertanyaanku. Apa yang sedang aku perbuat sekarang? apakah aku mengeluh? apakah semua yang sudah diperbuat adalah sia semata?

Aku pejamkan mataku dengan aroma apek sprei ranjangku yang semakin menusuk. Aku merasa sia-sia, ternyata bukan karena aku telah menyia-nyiakan mimpi dan impianku. Bukan juga karena aku tak percaya pada kemampuan dan imajinasi yang aku punya. Melainkan karena aku telah menjalani waktu yang aku punya dengan terlalu banyak kehilangan. Aku telah terlalu banyak kehilangan karena melewatkan waktu-waktu yang seharusnya bisa kuisi dengan lebih berani. Berani kecewa, berani merasa sakit, berani merasa kalah. Terlalu mulus jalan yang pernah aku pilih sebelum ini. Kemulusan ini meresahkanku, dan kenyamanan ini semakin menakutkanku.

Apa yang salah dengan menjadi telanjang? apa yang salah dengan menjadi hinaan dan cemoohan? sementara mimpi adalah sahabat orang-orang yang jatuh. Mimpi adalah dekat bila mereka berani menemukan jalan buntu. Aku bertaruh, terlalu banyak jalan buntu yang aku lewatkan. Sementara aku sempat lupa, jalan buntu mampu menguatkan langkahku, jalan berlubang mampu mengobarkan pendewasaanku, jalan gelap sekalipun mampu menjadikan aku melihat lebih banyak.

"Dalam kekalutan.. Masih banyak tangan yang tega berbuat nista"

Bahkan dalam menghidupi nyawa diri sendiri, kelalaian dan kemalasan kita sendiri pun bisa hadir secara tak sadar. Lewat pembelaan dan bantahan, lewat pembenaran dan alasan, kita terlalu banyak menghalalkan diri dengan ketidakberdayaan. Merasa tak sanggup padahal belum mencoba, merasa tak sempat padahal malas berfikir ulang, merasa tak perduli padahal kita sebenarnya ingin memperbaiki banyak hal tentang diri kita. Kenistaan dan ilusi, seperti semakin kentara dalam definisi menjalani hidup. Rasanya seperti dihempas, dan diberitahu, bahwa memang bumi beserta isinya ini hanya ilusi yang tak kekal.

Dalam keletihan dan kemarahan yang sangat, aku membuka lagi lembar catatan buku merahku itu. mataku kini bertumbuk pada kalimat paling pendek.

"adalah DIA di atas segalanya"

Aku terkejut membacanya. Seperti siraman sejuk yang aneh tapi mampu menguatkan tengkuk leherku menengadah. Aku edarkan pandanganku dengan cepat ke seluruh kamarku. Satu hal, entah bagaimana datangnya kekuatan yang menggerakkan arah mataku, satu hal yang kucari-cari. Dan di sanalah dia, sebuah kitab bersampul hijau dan kuning keemasan. Biarlah mereka menulis ironi tentang dosa. Biarlah mereka mengucap ironi tentang ampunan. Tapi kini, aku tahu juga. Aku tak mengenal diriku lebih baik dari siapapun. Bahkan tanpa sadar, aku masih terseok di dalam tubuhku sendiri.
»»  read more

Wednesday, May 25, 2011

Blora Sang Pramoedya - Sepotong Biografi




Judul Buku :
Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali
Penulis Buku :
Koesalah Soebagyo Toer
Bab Buku :
Rumah Blora


:::::::::: ::::::::::: :::::::::::
RUMAH BLORA

"Mas Pram setuju tanah dan rumah itu dijual?"
Saya tanya demikian karena selama ini ada dua hal penting yang selalu dipendamnya sebagai keinginan, harapan dan cita-cita :

Pertama, ia ingin mengabadikan rumah dan tanah itu sebagai museum, untuk mengenang jasa-jasa dan juga mengabadikan nama Bapak. Menurut dia, orang Blora sekarang justru melupakan sama sekali jasa Bapak. Ia bahkan sudah pernah memberikan gambaran, "naskah-naskah nanti akan saya simpan di sana, termasuk naskah-naskah yang saya temukan.

Kedua, ia ingin kembali ke tempat itu di masa tuanya. Hal itu pernah dikatakannya sendiri kepada saya. Ia bayangkan, ia akan tinggal di sana tanpa keluarga. Dari sanalah ia akan mengirim nafkah kepada keluarga, dan di sana ia akan bekerja. Memang selama ini saya rasakan, ia menyimpan rasa akrab kepada Bapak dan Ibu, sekalipun ia mengatakan bahwa dirinya dendam kepada Bapak karena perlakuannya yang tidak adil terhadap dia. Mas Pram pun, menurut saya, merasa dekat dengan Blora sebagai tanah air yang menyimpan banyak kenangan. Hal itu dibuktikannya dengan banyak karya tulis, mulai dari "Pelarian yang Tak Dicari", Perburuan, sampai yang terakhir "Sang Pemula".

:::::::::: :::::::::: ::::::::::

Babak Rumah Blora yang menjadi rumah tinggal Pramoedya Ananta Toer ini merupakan sepenggal dari banyak kisah sang adik, Koesalah Soebagyo Toer. Buku ini memiliki daya tarik tersendiri untuk membacanya melalui kepingan-kepingan cerita pendek tentang setiap sudut hari kehidupan sang Pramoedya. Buku ini begitu gamblang menceritakan keseharian dan keluhan  tak terjamah dari sang Pramoedya Ananta Toer. Dari buku ini lah ditemukan kisah tentang amarah, kekesalan, ketidakadilan asuhan bapak, dan penyakit yang menyerang dari sosok Pemenang Nobel ini. Memang benar judulnya berkata, serasa Dekat Sekali melihat sosok besar Pramoedya di dalam buku ini. Sebuah cara perkenalan yang berkesan untuk saya mengenali beliau.
»»  read more

Tuesday, May 24, 2011

Bangunan Komunal di Lereng Vietnam

Architects:
Hoàng Thúc Hào, Nguyễn Duy Thanh
Architects and invester:
1+1>2 Group
Location:
Suoi Re village, Luong Son, Hoa Binh province, Vietnam
Project year:
2010
Photographs:
Courtesy of Kien Viet

  
Desa Suoi Re di Vietnam ini dihuni oleh penduduk yang lebih banyak bekerja mencari nafkah di kota, selebihnya tetap tinggal di desa untuk bertani dan mengurus rumah mereka. Kalangan masyarakat di desa ini hampir tidak sempat untuk memikirkan pendidikan, kebudayaan, dan kebutuhan spiritual mereka serta putra-putri mereka. Sehingga tidak banyak ditemukan adanya tempat kegiatan publik, sekolah, pusat kesehatan, perpustakaan dan bangunan fasilitas lainnya. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali dan hanya bersifat sementara dan identitas semata.  


Bangunan yang diharapkan menjadi solusi berkelanjutan yang mengangkat isu kearifan lokal ini pun terbangun sebagai "rumah multifungsi". Bangunan dengan material lokal dan nilai budaya setempat ini dibangun dengan lokasi yang seolah "bersandar" pada gunung. Karena akan menjadi tanggap akan resiko badai, banjir bandang, dengan muka / fasad bangunan ini menghadap lembah gunung. 


 
Di lantai dasar, penduduk desa dapat berkumpul melakukan kegiatan di lapangan di dekatnya. Lantai dasar ini dirancang menyesuaikan dengan cekungnya lereng gunung sehingga panas bumi dapat dimanfaatkan dalam bangunan. Lalu terdapat beranda luas dengan elemen "bantalan" hijau rerumputan sehingga menyejukkan kualitas pandangan ke luar bangunan. Bangunan dua lantai ini pada tengahnya berfungsi sebagai kelas TK, perpustakaan, ruang pertemuan. Antar ruang-ruang tersebut, dan antar lantai-lantai tersebut, terdapat fleksibilitas tinggi dikarenakan minimnya pembatas-pembatas permanen. 


Ada hal menarik tentang bangunan ini jika dikaji dari kecerdasan lingkungannya :
  • Terdapat terowongan angin dan ruang terbuka berbentuk elips untuk penghawaan di dalam bangunan
  • Bentuk rumah dirancang mewarisi bentukan rumah tradisional lokal dengan konsep struktur panggung, ikat, dan bambu.
  • Lantai dasar dibuat dari batu kasar, pintu dan langit-langit dari bambu sebagai fungsi penghangat ruangan
  • Penutup atap dibuat dari daun kelapa
  • Dimanfaatkan sistem sel solar, tangki penampung air hujan, septiktank lima kompartemen yang bersih dari kontaminasi satu sama lain, hemat energi.
»»  read more

Monday, May 23, 2011

Ketika Angan Mulai Menyerangmu




“Kwatrin Tentang Sebuah Poci”
Karya : Goenawan Mohamad
=== === ===

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973

————————————————-

Ini adalah satu dari sekian sajak Goenawan Mohamad yang digubah oleh komposer Tony Prabowo.

Teman? Bagaimana apresiasi kalian tentang karya sastra Beliau di atas itu? Hm, sebuah fakta adalah, memang kita seringkali terlalu betah berlama-lama dengan angan-angan dan konsep yang kita bangun akan sosok seseorang. Angan-angan tentang seseorang bisa membuatmu lumpuh dan logikamu melenyap begitu saja.

Aku pernah patah hati. Yeah, sama seperti kalian. Tapi kini aku paham apa kata Mario Teguh, bahwa cinta itu hanya akan indah dan pantas dirasakan oleh hati yang dewasa. Karena jika terlalu cepat, cara kita mencintai lah yang akan melukai diri kita sendiri, bukan orang yang kita “cintai” itu.

»»  read more

Friday, May 20, 2011

An Over Expos"sure" From Ciwidey

 An Over Expos"sure" From Ciwidey




Just open your case
And find me inside the colors
Wave some hearts
Kill some times
Lovely travel of us
But sure, we're exposed here
And happily present you this gifts


Foto dan Sajak oleh @wiedesignarch



Sahabat semua... ^_^ Aku lupa, mungkin sekitar bulan Januari lalu ya, aku bermain ke Ciwidey yang merupakan kawasan perkebunan teh di Bandung Selatan. Di sana, iklimnya lumayan basah dan dingin luar biasa. Rasanya, kemanapun aku berpijak, yang ada hanya kabut, lembab, basah dan dingin.

Pagi hari itu, aku terjadi dari tidurku di sebuah cottage yang ada di tengah perkebunan teh ini. Berjuta romansa dan nuansa baru dan segar bagiku, menyergap di setiap sudut imajinasiku akan kawasan hijau dan berkabut tebal ini. Aku mulai merekam, dan akan kubagi sebagian itu pada kalian. Lengkap dengan sajak dan inspirasi yang kutemukan bersama sajian menyejukkan ini.

Dari Ciwidey, Bandung Selatan, aku bingkai kenangan ini bersama inspirasi yang bisa aku sajikan untuk mengabadikan momen-momen indah di atas sana. 

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

 The Morning I Saw
The Sunshine I Gained
The Reason I Posed
One Single Breath is An Effort
To Survive the Cold's Freezing
It's a Yellow One the First
Which Gave me Strength to Do More Adventures



::: Cottage's Field on Rancabali, Ciwidey ::: 
  ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


 The Chains of Lives could be Our Pains
We Love the Way of Being Altogether
With The Outside and Welcoming Them Inside
And Taking The Strangers to be Happy Playing With Us

But The Borders and Chains could be Nothing Matter
If only We could See The Similarity of Everybody's Belonging
It's the Same Land, the Same Destiny
We're together when we're Stepping on The Same Surface
This Land is Mine, but also Yours



..:: Cottage's Field on Rancabali, Ciwidey ::..
 ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

 

 When we're ready to stand up
When we're ready to give others
When we're ready to make any mistakes
And when we're ready to say forgiving
Just simplify your language in living
And be easy on smiling and being happy
Sometimes, when we have nothing
Then, only our simple minded is a single savior

..:: Cottage's Field on Rancabali, Ciwidey ::..
 ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


 
 Have no Idea to Tell
Have no Word to Share
Have no Spirit to Give
And then, Have no peace to Gain

It's a choice
And sometimes, we've Got Lost on The Way Playing Around
..:: Cottage's Field on Rancabali, Ciwidey ::..
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
 
Yak itulah sebingkai dua bingkai dari bidikan kameraku di Ciwidey sana. Sebenarnya semua sudah tersaji di BLOG Fotografi yang aku punya. Semoga teman dan sahabat berkenan menerima sajianku di posting ini.
 


»»  read more

Thursday, May 19, 2011

Surat untuk Perawan - Mengulas Buku


Judul Buku : Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis Buku : Pramoedya Ananta Toer
Bab Pembahasan : 1, 2, dan 3

"... kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu... Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekali pun kejadiannya telah puluhan tahun lewat..."

Begitulah sinopsis yang ada di cover belakang buku itu.


Jika kalian pernah mendengar nama seorang Pramoedya Ananta Toer, tentu akan banyak kontroversi yang senantiasa mengikuti sosok beliau. Namun fakta adalah bahwa Pramoedya dahulu bekerja di satu kantor surat kabar Jepang selama pendudukan Jepang di Indonesia. Beliau juga pernah diasingkan pada masa Soeharto dikarenakan pandangan dan tulisannya yang dilarang peredarannya, pernah di Pulau Buru dan juga di Nusakambangan. Bahkan telah selama kurang lebih 18 tahun total masa dijadikan tahanan politik tanpa ada pengadilan yang tersurat dalam catatan hukum.

"Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an." [wikipedia]

Membaca buku ini, aku baru menuntaskan sampai tiga bab pertama. Perasaan berdebar, membaca dengan bayangan ngeri, dan sensasi mencekam, menjadi kesan yang aku rasakan ketika membacanya. Aku bahkan mencoba mengenal visi yang dilihat Pramoedya melalui buku yang baru pertama kali kubaca dari Pramoedya Ananta Toer.

"Kalian, para perawan remaja, hidup di alam kemerdekaan, di bawah atap keluarga yang aman, membela, dan melindungi." [Bab 1]

Kalimat itu menjadi pembuka buku tulisan yang dinamainya "surat" ini. Batin tenang ketika membaca kalimat permulaan beliau di pembukaan ini. Namun suasana makin sedih ketika kita diminta untuk membayangkan kehidupan remaja-remaja gadis Jawa di masa kependudukan Jepang. Diceritakan bahwa gadis-gadis ini menjadi konsekuensi yang harus dikorbankan orang tua mereka ketika menjadi pejabat di bawah Jepang. Kekesalan semakin muncul ketika mataku tertuju pada tulisan tentang Jepang yang licik dan picik menjanjikan sekolah tinggi di Tokyo untuk gadis muda di seluruh Jawa. Yang pada nyatanya gadis-gadis lugu tersebut justru tidak pernah benar-benar mencapai mimpi memperbaiki Indonesia.

"Tak ada yang dapat mengatakan sudah berapa kali Jepang melakukan pengangkutan. Juga tidak jelas berapa puluh ribu perawan remaja yang telah diangkutnya sampai pada akhir kekuasaannya di Jawa. Jangan kalian harapkan pihak Jepang akan memberikan angka-angka itu. Maka jadilah kewajiban kalian untuk mencari sendiri data tentang itu." [Bab 2]

Gadis-gadis yang sempat diangkut itu, rupanya hampir tak ada yang menginjakkan kakinya lagi pulang ke Jawa. Ada yang memang tak berdaya upaya, ada juga yang sudah merasa berat menanggung  beban moral karena malu untuk kembali ke orang tua mereka di Jawa. Dan satu hal yang kulihat menonjol di tulisan ini adalah Pramoedya memberitahukan pada kita bahwa watak fasisme-militerisme Jepang di tanah kita ini telah menyebarkan penderitaan berlebihan di setiap jengkal tanah Indonesia. Menurutnya, imperialisme Barat pun masih menyadari bahwa ketika mereka hendak menguasai Nusantara, banyak orang tidak bertanya karena normalnya negara jajahan. 

"Salah seorang di antara mereka menceritakan... lepas 1,5 mil dari pelabuhan, para perwira Jepang serentak melakukan serbuan terhadap para perawan itu, memperkosa dan menghancurkan idealisme menjadi pemimpin di kemudian hari. Mereka berlarian di geladak kapal, mencoba menyelamatkan tubuh dan kehormatan masing-masing. Tak seorang pun dapat lepas dari terkaman. Seorang gadis naik ke menara dalam usaha menceburkan diri ke laut." [Bab 3]   
»»  read more

Wednesday, May 18, 2011

Safe Haven Bath House di Thailand



Architects: TYIN Tegnestue
Location: Ban Tha Song Yang,
Project team: Andreas Grøntvedt Gjertsen, Yashar Hanstad
Client: Safe Haven Orphanage
Budget: 22.500 NOK (Approx. 3,300 USD)
Project year: January 2009
Photographs: Pasi Aalto

"Tegnestue TYIN adalah organisasi nirlaba yang bekerja kemanusiaan melalui arsitektur. TYIN dijalankan oleh lima siswa arsitek dari NTNU dan proyek-proyek yang dibiayai oleh lebih dari 60 perusahaan Norwegia, serta sumbangan pribadi." [Archdaily.com]
TYIN yang merupakan kumpulan arsitek-arsitek "perduli" ini telah memiliki kontribusi unik dan menarik melalui beberapa pembangunan skala kecil yang ada di Thailand. Dan bentuk keperdulian mereka adalah dengan membangun wadah-wadah arsitektural untuk kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah dengan tingkat kehidupan yang sulit. 


Kali ini klien mereka adalah Safe Haven Orphanage yang hendak membangun satu tempat pemandian luar yang mewadahi fungsi toilet, binatu, dan kebersihan, sebutlah Safe Have Bath House, Thailand. 

Tempat pemandian ini berada di luar dengan arah hadap ke arah hutan jati. Antara satu ruang dan lainnya di sekat privasi namun tidak solid menyeluruh, sesuai dengan kultural lokal Karen. Ada bidang pengikat antara satu tempat dengan tempat mandi lainnya berupa bidang miring besar yang menjadi muka bangunan tersebut. 


Yang menarik dari perancangan pemandian dari panti asuhan ini adalah adanya perhitungan dan pertimbangan krusial dalam memutuskan sistem drainase dan pembuangan limbah toilet. Sedapat mungkin mereka memanfaatkan penguburan alami di tanah lokal, dan penggunaan alami dari lantai kayu dan batu kerikil untuk mengeringkan ruangan basah ini. 

 

"Iklim utara Thailand membuat kebersihan pribadi yang baik penting untuk mencegahpenyakit, terutama untuk anak-anak kecil. Dengan pemandian ini TYIN ingin menciptakanberfungsi dengan baik dan fasilitas yang bermartabat untuk kebersihan pribadi ." [Archdaily.com]

Yang menarik dari bangunan ini adalah bahwa pemandian ini melepaskan diri dari citra umum yang biasa kita lihat pada tipe-tipe kamar mandi umum / pemandian umum. Materialnya yang ramah lingkungan dan bentuknya yang memiliki lokalitas dari budaya setempat, menjadikan proyek ini memiliki nilai konteks arsitektur yang kritis dan tanggap akan budaya. 
»»  read more

Monday, May 16, 2011

Penulis Sajak itu, Bermata Merah



Hari ini izinkan aku menorehkan apresiasiku tentang karya seorang Chairil Anwar, sekaligus sebagai bingkisanku untuk lelaki pemimpi kelahiran tanggal sekarang, 16 Mei. Semoga tulisan ini bisa jadi bingkisan sederhana yang memantapkan pijakannya sebagai pemimpi, dan menjadi bingkisan berharga untuk yang belum dan ingin mengenali sedikit saja dari sang Chairil Anwar, penulis Indonesia angkatan ’45 yang meninggal di usianya yang sangat muda.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
TAMAN
Oleh : Chairil Anwar, Maret 1943

Taman punya kita berdua
Tak lebar, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
Halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan Halangan.

Karena
Dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
Aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Sudahkah teman pengunjung tahu satu teman Blogger kita yang sedang berulang tahun di hari ini? 16 Mei  sudah pasti merupakan hari istimewa seorang pengagum sederhana Chairil Anwar yang menjadi kawanan Blogger kita ini. Kita doakan semoga limpahan berkah dan kekuatan, senantiasa menemani jejak langkahnya yang terbata namun sarat cita. Amin. ^__^

P.s : tulisan ini dibingkiskan buat kamu yang selalu hafal dengan tulisanmu sendiri seperti berbicara dengan kertas. Tidak kurang satu apapun ketika kamu menceritakan ulang sambil menatap hadapanku, bahkan lengkap hingga titik dan koma.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

MEREKA BERCERITA SIAPA CHAIRIL ANWAR

“Mungkin Chairil sudah mengatakan sesuatu yang melukai perasaan mereka (pembuat pesta), karena Chairil tidak pernah menahan mulutnya. Mereka termasuk pada apa yang orang sebutkan golongan “terpelajar” yang diejek Chairil dengan sebutan “anak-anak sekolah besar”, dan yang ia sebut dengan julukan bahasa Belanda “burgerlijk” yaitu golongan yang kemudian saya (Asrul Sani) jelaskan sebagai “orang-orang yang menganggap memiliki sofa beledru sebagai suatu keharusan tapi berfikir sebagai suatu kemewahan.””

Chairil Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1049) adalah penulis sastra Indonesia yang meninggal di usia 26 tahun 9 bulan. Tepat tanggal 28 April 2011 kemarin, adalah 62 tahun wafatnya beliau. Beliau memiliki anak bernama Eva yang niatnya hanya dibolehkan memanggil ayahnya itu dengan nama Nini atau Chairil. Sayangnya, Chairil belum sempat mendengar panggilan itu keluar dari mulut putrinya. Chairil dikenang melalui cerita mamanya, yang dipanggil mesra oleh Chairil dengan nama Gajah karena badannya yang gemuk.

Chairil Anwar, penulis kelahiran Medan ini dikenal jauh dari politik. Sajak “AKU” yang selalu dibawakan berapi-api dengan kepalan tinju itu, bukanlah sajak pemberontakan, tapi sebuah pamitan yang getir dari ayahnya yang mencoba membujuk dia kembali ke Medan . Ia menolak dan memilih hidup yang jauh dari berkecukupan. [Asrul Sani]

Teman, saking cintanya Beliau akan membaca sastra mutu milik Belanda yang diinternir Jepang masa itu, Beliau kerapkali mencuri buku-buku tersebut dari toko.

Beberapa kali dia datang pukul 3 pagi, pada saat orang sedang lelap-lelapnya tidur. Dia tarik tangan saya, lalu diajaknya jalan. Dia kuat jalan, dari pagi sampai pagi lagi. Sepanjang jalan dia ngomong terus. [Asrul Sani]

Teman, Chairil Anwar adalah sesosok yang sangat cepat menghafal  sajak apapun yang ia baca. Asrul Sani, sang sahabat satu angkatannya, menyebutnya “kutu buku yang kena racun” karena kerap ditemukan unsur-unsur sajak lain di beberapa puisi Chairil. Dan setelah aku sendiri membaca sajak Beliau, ternyata memang benar bahwa Beliau melepaskan bahasa dari kekuasaan kaum pendidik atau baku yang ada di jenjang pendidikan.

ASRUL SANI MENGENANG HARI MENINGGALNYA CHAIRIL ANWAR

“Si Binatang Jalang sudah menyerah. Ia pergi dengan meninggalkan bermacam-macam reputasi, mulai dari anak kurang ajar sampai pada pencuri. Ia adalah bohemian. Banyak orang mengira bahwa ia adalah seorang petualang kumuh. Tidak. Chairil selalu berpakaian rapi. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji, bajunya senantiasa disetrika licin. Ia bahkan boleh dikatakan dandy. Orang ingat pada matanya yang merah. Ia tidak mengerikan. Ia adalah seorang periang dan seorang sahabat yang baik.” [Asrul Sani, Maret 1999].
»»  read more

Saturday, May 14, 2011

Di Bawah Bulan yang Munafik


“malam ini ku menangis”
“malam ini ku meratap”

Sejuta bayang berlarian di kepalaku. Terdengar jerit-jerit kecil yang menuntut balas. Bintang terpaku sementara bulan menjemput nyawa tertidur. Kupapah wajahku di pangkuan punggung tanganku. Ada letih bergelayut memberatkan gerak kepala yang enggan mencerna malam.

Jemariku berbalik, sejujurnya ingin menunjuk bulan di atas jendela. Ingin menunjuknya tanpa ragu. Menyalahkan diamnya yang tak mengangkatku dari sunyi yang pahit. Bulan memang munafik sejati yang tak berubah wajah sekalipun pembantaian dan penyiksaan terpajang di hadapannya. Bulan seperti tak beradab membiarkan semua itu berlangsung tanpa empatinya. Terangnya seperti menghina, bulatnya seperti menertawakan. Dasar kau munafik tak kenal malu, begitu jariku menghujam ke arah purnama dengan keras.

Di sela-sela rambut ini, aku menderu dalam kekesalan. Angin tiba-tiba berhenti, daun jendela pun seperti merinding tak berani berderit lagi. Mataku menyalahkan penglihatanku, telingaku memaki kesunyian yang amat menusuk. Apa tak ada mereka yang mampu menemani amarah dan kebencianku? Langit mengapa berbintang sedang aku ingin lenyapkan seisi bumi busuk ini? Bulan mengapa membulat sementara mulutku ingin menerkam manusia di bumi busuk ini? Angin mengapa berhenti bertiup sementara aku hancur terbanting tak karuan?

“kau pergi, ku sendiri”
“kau pergi, seakan tak ada lagi”

Bahuku berayun keras. Mataku seperti tak berhenti berputar. Mantra dan binatang seperti memenuhi mulutku. Sumpah serapah membalas remasan antar jemariku. Aku benci semua kejadian ini! Dadaku bergemuruh dan bahuku terayun keras. Sekujur tubuh remuk dari dalam. Aku pernah diterjang tamparan dan amukan, tapi yang ini lebih terasa menjijikkan. Melihat diri digerogoti dari dalam seperti sakit sang pecandu. Menjadi bangkai. Aku habis! Aku mampus! Aku Sakit!

“selamanya kau tak kembali”
“selamanya kau tak di sini”

Tertinggal… jauh sudah ku tertinggal. Tak adakah hal lain yang bisa kau bawa pergi? Selain jiwa ku yang pernah menghuni tubuhku? Begitu habis kau hisap aku seperti haus. Dan mengapa engkau tak datang dari luar sana? Mengapa engkau datang dari dalam sini?? Seperti kanker yang menghabisi aku dan darahku sendiri. Menghabiskan puas seisi badanku tanpa aku bisa melihat sendiri wujudmu. Busuk sekali caramu mencabikku dari dalam tubuhku sendiri. Kau telah tahu aku begitu kosong tanpa ingatan ketika asyik dijilat mulutmu! Kau sungguh wujud paling licik yang lapar!!

Beberapa Bulan Sebelumnya:

“sejujurnya yang ada, Cuma kamu”
“sejujurnya di hati Cuma kamu”
“sejujurnya berjanji Cuma kamu”
“Sejujurnya kan pasti Cuma kamu”
“yakin tak sedikitpun terbagi”
“yakin tak sedikit pun berpaling”
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tokoh Utama            : Fiktif
Penulis Prosa             : @wiedesignarch
Penulis Lirik Lagu      : @wiedesignarch
Pengantar :

Tulisan ini dibuat di satu malam jam 01.17 dari apartemen Jakarta. Di balik kaca jendela, langit kelam sepi tanpa tampak bulan dan bintang karena hujan yang masih tersisa sedikit. Emosiku tak berpihak pada siapa dan apa pun ketika menulis tulisan ini. Tidak kepada malam, tidak kepada bulan bintang, tidak juga kepada ego dan kenaifanku. Aku berbaur dalam aneka kata, lagu dan emosi yang sempat terpotong-potong. Kubuat diriku tersesat dalam menentukan posisiku berada, karena aku sedang belajar menemukan diriku. Memori dan ingatan pernah jadi belenggu akan aku, dan itu tak pernah bisa kulepas sampai detik ini. Aku tersesat, tapi aku tak sendirian. Ada kebebasan yang menungguku di suatu tempat, aku hanya perlu membuka topeng dan belajar tak mempercayai sekitarku. Aku berjalan sendirian, bangkit sendirian. Cuma kamu, Cuma kamu, dan Cuma kamu itu, mereka Cuma kata-kata hipnotis yang perlahan pasti membuatku semakin jauh dari jalan Lebih Baik ku.

»»  read more
My Room (42) Curhat (21) Ribet (21) Bacaanku (20) Teman2ku (20) Quote (16) Love (14) MyProsa (14) Jalan-jalan (11) Arsitektur (9) Islamic (9) Bioskop (8) Memotret (5) Bernyanyi (3) Design (3) Year Ended (3) Akubaru (2) Movie (2) UlangTahun (1)
There was an error in this gadget
My photo
Di blogger world ini, aku cuma ingin merekam karya, merekam persahabatan, dan merekam proses kehidupanku. Semoga semua bersedia berbagi bersamaku dan blogku. ^_^