Posting Berikutnya!

Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^

Jangan lewatkan !!

Saturday, May 14, 2011

Di Bawah Bulan yang Munafik


“malam ini ku menangis”
“malam ini ku meratap”

Sejuta bayang berlarian di kepalaku. Terdengar jerit-jerit kecil yang menuntut balas. Bintang terpaku sementara bulan menjemput nyawa tertidur. Kupapah wajahku di pangkuan punggung tanganku. Ada letih bergelayut memberatkan gerak kepala yang enggan mencerna malam.

Jemariku berbalik, sejujurnya ingin menunjuk bulan di atas jendela. Ingin menunjuknya tanpa ragu. Menyalahkan diamnya yang tak mengangkatku dari sunyi yang pahit. Bulan memang munafik sejati yang tak berubah wajah sekalipun pembantaian dan penyiksaan terpajang di hadapannya. Bulan seperti tak beradab membiarkan semua itu berlangsung tanpa empatinya. Terangnya seperti menghina, bulatnya seperti menertawakan. Dasar kau munafik tak kenal malu, begitu jariku menghujam ke arah purnama dengan keras.

Di sela-sela rambut ini, aku menderu dalam kekesalan. Angin tiba-tiba berhenti, daun jendela pun seperti merinding tak berani berderit lagi. Mataku menyalahkan penglihatanku, telingaku memaki kesunyian yang amat menusuk. Apa tak ada mereka yang mampu menemani amarah dan kebencianku? Langit mengapa berbintang sedang aku ingin lenyapkan seisi bumi busuk ini? Bulan mengapa membulat sementara mulutku ingin menerkam manusia di bumi busuk ini? Angin mengapa berhenti bertiup sementara aku hancur terbanting tak karuan?

“kau pergi, ku sendiri”
“kau pergi, seakan tak ada lagi”

Bahuku berayun keras. Mataku seperti tak berhenti berputar. Mantra dan binatang seperti memenuhi mulutku. Sumpah serapah membalas remasan antar jemariku. Aku benci semua kejadian ini! Dadaku bergemuruh dan bahuku terayun keras. Sekujur tubuh remuk dari dalam. Aku pernah diterjang tamparan dan amukan, tapi yang ini lebih terasa menjijikkan. Melihat diri digerogoti dari dalam seperti sakit sang pecandu. Menjadi bangkai. Aku habis! Aku mampus! Aku Sakit!

“selamanya kau tak kembali”
“selamanya kau tak di sini”

Tertinggal… jauh sudah ku tertinggal. Tak adakah hal lain yang bisa kau bawa pergi? Selain jiwa ku yang pernah menghuni tubuhku? Begitu habis kau hisap aku seperti haus. Dan mengapa engkau tak datang dari luar sana? Mengapa engkau datang dari dalam sini?? Seperti kanker yang menghabisi aku dan darahku sendiri. Menghabiskan puas seisi badanku tanpa aku bisa melihat sendiri wujudmu. Busuk sekali caramu mencabikku dari dalam tubuhku sendiri. Kau telah tahu aku begitu kosong tanpa ingatan ketika asyik dijilat mulutmu! Kau sungguh wujud paling licik yang lapar!!

Beberapa Bulan Sebelumnya:

“sejujurnya yang ada, Cuma kamu”
“sejujurnya di hati Cuma kamu”
“sejujurnya berjanji Cuma kamu”
“Sejujurnya kan pasti Cuma kamu”
“yakin tak sedikitpun terbagi”
“yakin tak sedikit pun berpaling”
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tokoh Utama            : Fiktif
Penulis Prosa             : @wiedesignarch
Penulis Lirik Lagu      : @wiedesignarch
Pengantar :

Tulisan ini dibuat di satu malam jam 01.17 dari apartemen Jakarta. Di balik kaca jendela, langit kelam sepi tanpa tampak bulan dan bintang karena hujan yang masih tersisa sedikit. Emosiku tak berpihak pada siapa dan apa pun ketika menulis tulisan ini. Tidak kepada malam, tidak kepada bulan bintang, tidak juga kepada ego dan kenaifanku. Aku berbaur dalam aneka kata, lagu dan emosi yang sempat terpotong-potong. Kubuat diriku tersesat dalam menentukan posisiku berada, karena aku sedang belajar menemukan diriku. Memori dan ingatan pernah jadi belenggu akan aku, dan itu tak pernah bisa kulepas sampai detik ini. Aku tersesat, tapi aku tak sendirian. Ada kebebasan yang menungguku di suatu tempat, aku hanya perlu membuka topeng dan belajar tak mempercayai sekitarku. Aku berjalan sendirian, bangkit sendirian. Cuma kamu, Cuma kamu, dan Cuma kamu itu, mereka Cuma kata-kata hipnotis yang perlahan pasti membuatku semakin jauh dari jalan Lebih Baik ku.

»»  read more

Thursday, May 12, 2011

Pangandaran Dalam Konflik


Lokasi Pemotretan : Pantai Barat, Pangandaran, Indonesia

Pernah ada sahabat dan pengunjung yang tahu? Bahwa aku adalah blogger yang gemar sekali memegang kamera SLR untuk memotret dan mengabadikan suatu imaji. Sebenarnya, aku punya blog portfolio sendiri untuk sebagian imaji yang berhasil kutangkap dengan kamera NIKON ataupun Handphone. Tapi kali ini, aku putuskan untuk membaginya bersama pembaca setia dan terbaru di blog Wiedesignarch ini.


PANTAI BARAT, PANGANDARAN, INDONESIA

Tanggal 13 dan 14 April lalu, aku dan beberapa rekan berkunjung ke Pantai Barat yang menjadi salah satu objek wisata Pangandaran. Kebetulan, lokasi yang kuabadikan lewat potret ini berada di Desa Pangandaran saja. Karena sebenarnya, Pantai Barat ini sangat panjang dan berada di lebih dari empat desa sekitarnya.


MENGAPA PANTAI BARAT ?

Pantai Barat Pangandaran hanyalah satu dari tiga daya tarik wisata utama di Pangandaran. Dua lainnya adalah Pantai Timur dan Cagar Alam Pananjung. Ya, ketiganya berada di desa yang sama dan letaknya amat sangat berdekatan.

Pantai Barat merupakan daya tarik wisata Pangandaran yang memiliki zona renang dan zona rekreasi pantai. Pantai Barat ini memiliki kemiringan pantai yang landai dan berpasir sehingga banyak sekali diminati sebagai rekreasi keluarga di Pantai. Secara zona, Pantai Barat sendiri terdiri dari : zona renang, zona perahu nelayan, zona perahu wisata, dan zona surfing.


KONFLIK APA YANG ADA DI PANTAI BARAT ?

Pantai Barat ini merupakan salah satu pusat kesibukan aktivitas pariwisata di Pangandaran. Sehingga bisa dikatakan bahwa karakteristik masyarakat yang ada di kawasan ini adalah karakteristik urban, bukan lagi rural. Ini dicirikan dengan kerapatan bangunan yang padat di kawasan ini.

Adapun konflik yang bisa saya temukan di Pantai Barat ini adalah :

  • ·         Jumlah perahu nelayan yang membludak pasca tsunami tahun 2006 di pantai ini lebih dari 300 perahu, dan mereka tidak memiliki lahan khusus untuk pendaratan mereka. Sehingga perahu-perahu tersebut begitu saja tersebar di area wisata. Ruang kegiatan nelayan pun menjadi saling silang dengan kegiatan wisatawan.
  • ·         Tebalnya lapisan barisan kios kaki lima yang bahkan berada di atas pasir pantai. Dan tebalnya lapisan ini menghalangi akses visual pengunjung dari jalan utama ke arah pantai. Rapatnya kios-kios kaki lima ini juga turut andil dalam memperbanyak limbah sampah yang berserakan di atas pasir pantai.


DAMPAK TSUNAMI PANGANDARAN

Pangandaran kini sedang memiliki agenda milyaran untuk pembangunan pelabuhan. Hal ini menjadi agenda mendesak terkait membludaknya jumlah kapal nelayan di Pangandaran. Sebagaimana diketahui, banyaknya bantuan perahu di kawasan mayoritas nelayan ini, menjadikan Pangandaran mulai kehabisan lahan untuk menempatkan perahu, dan memastikan bahwa aktivitas pariwisata dapat berlangsung aman dan memiliki privasi dari kegiatan pelayaran nelayan.

 
»»  read more

Wednesday, May 11, 2011

Senja Di Kaca Spion - Cerpen Preview


Judul Cerpen : Senja di Kaca Spion
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Sumber : sukab.wordpress.com
 

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan. Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama, mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang mengalami bencana tak tertahankan.
 
Cuplikan cerpen di atas adalah pembuka dari cerpen perdana di sebuah blog Seno Gumira Ajidarma. Kalian bisa membaca lengkap semua cerita di posting cerpen judul tersebut, di blog yang merangkum hampir semua karya dan buku Beliau.

SPION, MASA LALU,  dan TIGA MATAHARI.

Ketiganya adalah filosofi menarik yang kudapat dari cerpen ini. Di sini diceritakan sosok pengendara mobil yang melewati jalan tol, sambil melihat spion-spion mobilnya. Hari itu senja yang merah, matahari di belakang mobilnya, dan spion itu ada tiga buah : di sisi kiri, sisi tengah atas (dalam mobil) dan sisi kanan. 

Ibarat berjalan di jalan “tol” kehidupan, sosok itu hanya punya pilihan berjalan maju seperti apapun kecepatannya. Namun ditengah penglihatannya yang luas di bentang jarak di depannya, ia tak pelak merasa terbantu dengan spion-spionnya yang melihat sisi bentang jarak di belakangnya. Kehidupan begitu manis dan lega, jika kita punya pandangan dan visi seperti filosofi spion mobil ini. Jelas melangkah mulus ke masa depan kehidupan, tapi masih harus tetap menjadikan masa lalu tertinggal di belakang sebagai peneguh jalan kehidupan kita. 

Tiga matahari? 
Jika kita beruntung, kita akan menemukan keelokan dengan melihat masa lalu. Ketika senja di belakang kita menjalani hari, dan kita siapkan spion tiga buah menangkap bayangan senja pada masing-masingnya. Maka hidup sungguh penuh keindahan dan rasa manis di kemudian hari. Hanya kita sering terlalu malas untuk berjalan teguh ke depan, sambil meletakkan tiga buah spion itu untuk bisa menangkap bayangan indah tiga matahari senja.  

Seno, sesosok Penulis Indonesia yang sangat mengidolakan seorang Rendra dan menyukai tulisan Remy Sylado. Ia sempat begitu saja meninggalkan pendidikan wajib sekolahnya di tanah air, hanya karena ia begitu tergerak untuk bertualang seperti cerita sebuah buku yang pernah dibacanya di masa kecil itu. Ia pergi bertualang merasakan sendiri bagaimana belajar itu tidak harus berseragam di jenjang sekolah. Dia sang Seno, menyukai senja bahkan hanya senja saja yang menjadi inspirasi semua tulisannya sejak awal tahun 80-an.

Mengapa aku memilih Seno ?

Seseorang yang kukenal dekat, belum lama ini terdengar seperti menyindir dan mengkritikku ketika aku katakan bahwa aku hanya menyukai tulisan seperti tulisan Tere-Liye dan tipikal Perahu Kertas. Dia katakan, aku hanya berpikiran sempit karena menyukai hanya langgam bahasa yang implisit dan tidak bisa menerima penulis lain yang bisa dengan frontal blak-blakan menceriterakan kisah fiksi mereka. Aku dalam hati merasa gemas dan frustasi, benarkah aku demikian sempitnya memilih kiblat gaya penulisanku? Memang aku tipikal menulis yang implisit, melankolis, dan lebih banyak menyelipkan arti kata dalam perumpamaan lain yang lebih “lambat” bercerita.

Seno, adalah penulis yang tak pernah mau memberi tulisan naïf dan meninabobokan pembaca. Ia lantang menyuarakan fikiran jelata dan lantang pula menuliskan dialog maki-maki kaum mayoritas ataupun kaum minoritas. Bagi Seno, tulisannya adalah warna dari komunitas itu sendiri. Dengan imajinasi kotor sekalipun, sampai ke gunjingan pedas tentang apa dan siapapun.
»»  read more

Tuesday, May 10, 2011

Bambu dan Konsep Payung


Lokasi : Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Indonesia
 
Arsitek : DSA + s
 
Prinsipal : Suwardana Winata
 
Klien : Ichibanya Japanese Noodle House
 
Photograph : Courtesy of DSA+s
 
Bangunan yang terletak di Jakarta Barat ini merupakan sebuah restoran. Pemilik restoran ini bermimpi untuk memiliki restoran Japanese Noodle yang berada di luar ruangan (outdoor). Tentu saja, konsep restoran outdoor ini memiliki penyelesaian desain yang tidak biasa. Pada desain kali ini, pemilik mencoba membangun restoran outdoor temporer yang mana dapat dibangun dan dibongkar secara praktis.
Arsitek bangunan ini memanfaatkan bamboo sebagai material utama desain restoran. Bambu ini digunakan pada semua elemen struktur dan kulit bangunan. Hal prinsip bagi arsitek ini adalah PROTEKSI. Dimana bambu yang dimanfaatkan pada bangunan ini harus dalam melindungi kita dari matahari, angin, hujan, dan faktor lainnya. Maka dipilihlah konsep UMBRELLA / PAYUNG sebagai penjelmaan konsep arsitektural yang mewakili fungsi “PROTEKSI” tersebut.
Bentuk dasar yang menjadi inspirasi arsitek adalah PAYUNG. Payung ini selanjutnya dirancang seperti payung raksasa yang mampu menampung kegiatan manusia di bawahnya. Tempat perlindungan itu disebut SHELTER. Arsitek mencoba membuat grup / kumpulan shelter yang selanjutnya menjadi bangunan berstruktur. Variasi dan irama pun dimainkan dengan perbedaan ukuran dan dimensi shelter-shelter tersebut. Atap shelter yang serupa payung ini dimainkan tinggi rendahnya, lebar sempitnya, sedemikian rupa sehingga saling menumpuk satu sama lain sehingga mampu menjadi atap yang melindungi.
Setiap payung atap ini disangga oleh empat titik bamboo vertikal. Struktur bambu yang ada diikat oleh tali ijuk, kemudian dikaitkan ke tiang baja besar sebagai satu kolom struktur utama. Arsitek juga membuat atap lebar dan tinggi sehingga angin dapat bebas mengalir keluar masuk ruang-ruang restoran tersebut.

BAMBU

Bambu sudah berabad tahun lamanya digunakan sebagai elemen konstruksi bangunan. Secara structural, bambu memiliki kelebihan karena kelenturannya dan juga kekuatannya terhadap goncangan / gempa. Namun secara perawatan, bambu memiliki kelemahan dalam hal keawetannya.

Karena estetikanya yang menawan, banyak masyarakat yang menjadikan bambu sebagai elemen bangunan yang tidak permanen. Atau minimal, bambu menjadi elemen eksterior dan interior yang dimanfaatkan sebagai material aksen atau pengisi bidang permukaan / kulit bangunan.
»»  read more

Monday, May 9, 2011

Damai dalam Kontradiksi


“Aku telah belajar bahwa sukses bukan diukur dengan posisi yang dicapai seseorang di dalam hidupnya tetapi oleh hambatan yang telah diatasinya ketika ia berusaha meraih sukses.” [Booker T. Washing’ton]

Sahabat, setiap hari yang akan aku jalani ini, aku ingin bisa menjalaninya dengan suara batin yang lantang diikuti dengan tindakan yang teguh mengikuti kejujuran hati. Tidak mudah, mungkin itu yang selalu menjadi penengah dan suara terlantang ketika aku hendak menuruti idealisme itu. Tidak mudah untuk selalu berbuat benar, jujur, dan konsisten dengan hati dan fikiran. Selalu ada godaan internal dan desakan lingkungan yang bisa mem”bubar”kan tekad kuat untuk menjalani hari se-konsisten mungkin.

Ketika bekerja, sering ada kontradiksi yang berperang di dalam batin. Antara keinginan melakukan hal yang kita suka, berlawan dengan keharusan kita memenuhi jobdesk yang dipaparkan atasan. Fikiran dan batin yang kerap melawan satu sama lain, sering menjadi ketidaknyamanan yang menghambat kinerja kita sehingga kualitas kerja jadi pas-pasan dan tidak semaksimal hasrat yang kita punya.
“Tipe apakah Anda? Tipe Korban, atau tipe Pengubah?”

“Manusia itu akan selalu hidup membawa kontradiksi dan paradoks dalam dirinya. Yang menentukan derajatnya di hadapan Tuhan, adalah bertambahnya kemampuan mereka mendamaikan diri dan batin mereka di atas kontradiksi mereka. Kontradiksi itu bukan untuk dikalahkan apalagi dipaksakan hanya satu harmoni, melainkan untuk bisa damai di atasnya dengan gently and patiently.”

“Damai adalah suatu target yang berjalan, jika kita damai di pagi hari, belum tentu kita merasakan damai yang sama di siang harinya.”

Mario Teguh pernah bilang, dalam kontradiksi itu pun, kita dihadapkan pada penilaian : apakah kita tipe KORBAN, atau tipe PENGUBAH ? Ia mengingatkan bahwa dalam kontradiksi yang berperang dalam diri kita bisa saja menjadikan kita tipe KORBAN jika kita hanya bisa mengeluh dan mempersempit pikiran kita dengan menyalahkan / mencari pembenaran-pembenaran yang “bohong”.

Kedamaian, di atas kontradiksi yang ada dalam diri kita. Kedamaian itu seperti sebuah tantangan yang menjadi visi yang bisa menyelamatkan kita dari kegelisahan hidup. Kedamaian itu bukan dari pembenaran-pembenaran melainkan dari proses kita mengolah kontradiksi di dalam diri kita sebagai potensi diri. Ketika kita menjadi sebuah keburukan, seharusnya itu sama potensialnya dengan ketika kita bisa menjadi sebuah nilai kebaikan. Kita tidak harus letih menutupi keburukan dalam diri kita, karena tindakan kita menjadi baik karena keburukan yang kita tahu ada pada diri kita itu.

Yah, kedamaian juga harus merupakan tindakan damai kita terhadap keburukan kita sendiri. Akui saja ketika batin kita menyadari ada keburukan yang mewabah dalam diri kita sendiri. Kita selalu dibekali kontradiksi, sahabat. Ada kebaikan yang muncul gelisah ketika kita hanya memenangkan keburukan diri. Dan derajat kita di mata Tuhan adalah semakin atas, jika semakin besar kontradiksi yang harus kita damaikan dalam tingkatan kehidupan kita.
»»  read more

Friday, May 6, 2011

Ajari Aku Mengenal Sastra Indonesia


Sahabat, teman, dan senior... Pengalaman hidup telah kalian teguk dan pelajaran hidup telah kalian penuhi... Sementara aku yakin, kalian pun telah banyak mengenal waktu dengan merenunginya.

Aku, Wiwied, sang penulis blog ini, merasa keras ingin tahu dan bertanya-tanya tentang suatu wahana belajar yang asing buatku, yaitu Sastra.
Selama ini waktuku habis untuk melahap kata-kata, emosi, dan bara dari rangkaian huruf yang ditangkap mataku. Ketika membaca, aku lapar oleh ending sebuah cerita, lapar oleh ketenangan dan pembenaran yang membelaku sebagai manusia, dan lapar akan mencintai diriku dan kehidupan yang aku jalani.

Kini, sepenggal cerpen dan nama datang menghampiri penglihatanku. Tapi mataku seperti malas bukan karena aku bosan, tapi karena aku tidak tahu sedang membaca apa dan untuk apa aku membacanya. Sebuah cerpen dalam balutan sastra seorang pengagum alm. WS Rendra yang terobsesi dengan senja. Ia adalah Seno Gumira Ajidarma
Kubaca berkali-kali cerpennya satu, aku makin kesal karena tidak tahu aku sedang membaca apa. Tapi aku terobsesi dalam alam lain, untuk suatu hari aku bisa membaca karya Pramoedya Ananta Toer. Dan aku pikir aku bisa memulainya dari cerpen-cerpen merakyat. 

Ajari aku....
Apakah hakikat dari membaca sebuah cerita sastra Indonesia...
Mengapa orang asing begitu menghargai karya tanah kita dalam sastra itu dengan harga mahal dan waktu besar...
Bagaimanakah aku harus mulai menghargai mahal sebuah karya sastra kami? 
»»  read more

Thursday, May 5, 2011

Eksperimen Kerudung Ala Hana Tajima

Foto di atas ini adalah aku ketika pertama kali memutuskan hendak berjilbab. Yah, sekitar lebaran idul fitri tahun lalu, aku baru mulai berjilbab. Dengan cara pakai kerudung yang usual dan biasa aku pakai ketika aku sedang di kegiatan-kegiatan rohis semasa sekolah dulu. Lihat? Aku pakainya berantakan dan balapan di mana-mana.

Sebenarnya, pada bulan Maret tahun lalu, aku mulai melirik seorang desainer muda yang memiliki banyak ide segar tentang mode wanita dan kerudung. Awalnya aku tidak tahu siapa namanya, dan masih dengan lugunya hanya menggemari satu album foto di facebook-nya. Nama facebook itu adalah Style Covered : Hijab Fashion and Muslim Style.
Awalnya aku kagum dengan doi yang punya style. Selain cantik dan manis, doi ini juga pandai memilih gaya yang unik dan warna fashion yang sepintas terlihat casual.

Lalu pada bulan April tahun ini, baru beberapa minggu lho ini, aku mulai berminat untuk terus banyak belajar caranya  mengenakan kerudung. Yah, well... Aku tak fotogenik, tapi harus memajang hasil eksperimenku yang memang banyak terinspirasi sang Hana Tajima ini. 
Tadaaaa.... ini aku dan eksperimen pertamaku. Well,menurut kritikus, sebaiknya lain kali aku menghindari warna terang. Hehehe, apalagi pink...

 Semenjak aku mengenakan gaya kerudung Hana Tajima, aku mulai berhenti memakai kerudung berbentuk persegi semacam paris. Dan mulai sering melirik pashmina dan kain-kain taplak panjang lainnya. Yep, model yang kupakai jadi tak bisa ditebak-tebak dan tidak tetap, karena eksperimenku selalu berbeda sesuai suasana hati dan kehendak jariku memasang jarum pentul di kepalaku. hehehe

Eksperimenku tidak selalu berhasil dan memuaskan, tapi aku senang bisa mengeksplor lebih jauh tentang gaya kerudung yang diinovasikan sang Hana Tajima ini. Inspirasi pertama yang datang secara spontan, semoga bisa semakin membuat aku mempelajari banyak hal lainnya. ^_^

Buat teman-teman yang penasaran dengan Hana Tajima, boleh lho browsing image dan tutorial beliau di Youtube. Secara subjektif, aku memang menyukai gaya kerudungnya yang praktis, simpel dan casual untuk sehari-hari dan kerja di kantor. 
»»  read more
My Room (42) Curhat (21) Ribet (21) Bacaanku (20) Teman2ku (20) Quote (16) Love (14) MyProsa (14) Jalan-jalan (11) Arsitektur (9) Islamic (9) Bioskop (8) Memotret (5) Bernyanyi (3) Design (3) Year Ended (3) Akubaru (2) Movie (2) UlangTahun (1)
My photo
Di blogger world ini, aku cuma ingin merekam karya, merekam persahabatan, dan merekam proses kehidupanku. Semoga semua bersedia berbagi bersamaku dan blogku. ^_^