Posting Berikutnya!

Semoga tetap sabar menunggu posting setelah ini... Oh yah, kalau sempat,,, boleh tengok2 fotoku di Tumblr.. barangkali kalian suka ^_^

Jangan lewatkan !!

Wednesday, July 24, 2013

Terbaring oleh Manusia

--- 

Aku terbaring dan tidak berani bersuara
Hanya menahan sakit karena rantai yang membelengguku
Terkadang, aku melihat tetesan darah segar menetes
Sela-sela bulu mataku, tertutup debu dan tanah

-
Jatuh hati mampu menjeratku sedalam ini
Ketika kepak datangnya dari sayap yang patah terluka
Bahkan sayap yang dulu lebih tegap dari bahuku
Tidak mampu menjaga keseimbangan dari putaran gelora diri ini.

--
Panggung ini jadi sangat ironis, kawan
Drama ini jadi terlalu memihak pada kelemahan dan kekuatan semata
Tentang membuang seseorang dan membeli keberuntungan seseorang
Kuat guncangannya, dari awal yang terlalu dini, hingga akhir yang terlalu cepat pula.

--- 
Aku terbaring dan tidak berani bersuara
Hanya menahan sakit karena rantai yang membelengguku
Mengapa manusia harus berwajah malaikat dan bidadari
Jika hanya menawarkan darah segar manusia kelana yang dihina.

-

Lama tidak menulis tentang gelap dan kelam. Terakhir aku tahu tentang keduanya adalah ketika ada hantaman masa yang tidak terelakkan oleh kegembiraan apapun. Tapi ketika sukacita mencari sekam dalam gelap itu diiringi kerinduan, itu bukan karena ada lagi kata menyerah pada pekat. Ini adalah cara manusia menggali dirinya sendiri, berkomunikasi dengan rohnya sendiri, lalu menerbitkan caranya sendiri untuk berdamai dengan jiwanya. 
Orang bijak banyak berkata, bahwa beranilah kau gali apa yang kau temukan lebih ada padamu. Gali terus hingga kau temukan, lalu menyatu dengan rohnya. Roh yang sejatinya hadir dengan jujur.
--
Tulisan ini diinspirasi oleh Andre Hehanusa dan NOAH.

»»  read more

Saturday, July 6, 2013

Taman Bumi dan Senja #07

Bagian 07 
--- 

“Mau pesan menu apa kau, Diya?”

Lelaki gemuk berkemeja kusut itu membolak-balik halaman buku menu. Sebenarnya, kemejanya bagus dan bersih. Hanya saja, gemuk membuat kemejanya kusut tidak jelas lagi bentuknya. Berbeda dengan paras si lelaki, bersih dan sangat terawat. Meski teralu sering menggunakan nada tinggi, sebenarnya ia adalah tukang lawak yang pandai mengajak orang banyak mendengarkan gurauannya. Ia adalah ayahku.

“Terserah Bapak saja. Aku lahap apa saja.”

Aku menjawab setengah berusaha terlihat antusias. Bukan apa-apa. Pasalnya ayahku orang yang membenci jawaban terserah. Sedangkan aku saat ini tidak terlalu berselera untuk makan di restoran ini. Bukan restorannya, tapi suasana hatiku. Aku bisa menebak kenapa ayahku tiba-tiba mengajakku bertemu di Bali, memaksaku berangkat tiba-tiba dari Jakarta. Sebuah dialog masalah sederhana yang menurutku, aku enggan mendebatnya.

--- 

Restoran ini indah. Tapi agak ironis. Berada di Bali bukanlan pertama kalinya buatku. Baru sekarang aku memasuki restoran tepi pantai yang ini. Restoran Sarang Lebah, itu namanya. Persis dugaanku, semua interiornya memasukkan apa saja tentang lebah sebagai tema desainnya. Harfiah. Membosankan.

Aku menghabiskan makananku dengan khidmat. Sebentar-sebentar benakku menggerutu oleh desain restoran yang serba vulgar ini. Restoran ini punya pekerjaan yang sangat rapi dan detil. Tapi desain langit-langit yang terbuat dari papan-papan kayu baru membentuk pola sarang lebah, sama sekali tidak mengesankanku. Lebih kesal lagi ketika melihat rumput-rumput sintetis tersebar di mana-mana. Mungkin ini adalah hasil gaya hidup pemilik restoran yang tidak terlalu gemar mengotori jari-jari tangannya dengan tanah merah.

“Sebaiknya cepat kau urus kartu kuning.”
Ayahku tampak kurang berselera makan hari ini. Tidak seperti biasanya, kini ayahku makan tanpa nasi. 
“Kau urus supaya bisa cepat kau ikut ujian masuk pegawai negri.”
Aku menggigit kentang goreng terakhirku sambil berusaha tetap bertahan duduk di depan ayahku. Bagaimana pun, aku tidak tahan dengan pembicaraan jadi pegawai negeri sipil ini. Entah apa, aku tidak punya argumen kuat untuk membantah ide ayahku.
“Jangan kau berhenti cuma karena gagal di tes masuk perumnas kemarin. Kau harus teruskan mencoba sebelum habis umurmu dari kriteria masuk. Mengerti?”

Aku merapikan serbet makanku sambil sekuat tenaga menatap ayahku. 
Aku tidak mengangguk. Tidak pula menggelengkan kepalaku.

--- 

Sementara ayahku menanyakan toilet kepada pramusaji restoran, aku menggeser sedikit posisi dudukku. Di kejauhan, ada layang-layang berbentuk wajah ikan berayun oleh angin di atas laut. Pantai seperti menyembunyikan tangan yang memainkannya hingga ke atas sana. 

Apakah layang-layang itu aku? Apakah aku adalah layang-layang ibukota Jakarta seperti yang dikiaskan sang pencipta puisi bernama W.S Rendra? Apakah aku masih sama rapuhnya dengan layang-layang di bawah awan itu? Apakah ayahku sekedar berusaha menjadi pemain benang layang-layang, yang tak mau layangannya merendah dan tersangkut?
Aku merasakan sepi dan asing yang luar biasa. Pertemuanku dengan ayahku tidak berbeda. Selalu sulit dijalani dan dimengerti. Aku terlalu takut untuk bisa mengatakan betapa aku sangat tidak mengetahui siapa diriku, apa mauku, dan bagaimana keinginanku. 
Hari ini aku akan pulang lagi ke Jakarta.
Pulang ke rumah yang lagi-lagi sepi.
Kadang teman dan saudara, tidak cukup tegar untuk menerima aku yang belum juga bisa menentukan hidupku sendiri. 
Kadang kawan pun, seperti terkelabui oleh bakat dan kegemaranku di saat aku tampak sangat asik mengerjakan project atas nama kreativitas.

--- 

Kutipan puisi W.S Rendra :
Apa gunanya pendidikan, bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota, kikuk pulang ke daerahnya ?
Puisi Seonggok Jagung
 

--- 

(bersambung…)

»»  read more

Friday, June 28, 2013

Taman Bumi dan Senja #06

Bagian 06 
---


Saung sebesar satu rumah itu bernama Saung Miring. Sebuah saung sederhana yang terbuat dari batang bambu diikat tali ijuk, dengan daun nipah kering menutupi selurung bidang atapnya. Terlihat kontras dengan hutan kelapa yang menyisir tepian pantai di Pangandaran ini. 

Tanpa dinding bata atau sekat apapun, saung ini hanya serupa pendopo luas yang beralaskan batu alam bercorak besar. Tak ada yang bertelanjang kaki, para pengunjung saung hanya duduk di bangu-bangku santai sambil memanfaatkan jaringan internet yang disediakan oleh pengelola saung. Saung Miring menjadi wahana santai yang cocok bagi travelers Pangandaran yang hendak bersosialisasi lewat media cyber. Saung Miring, di sana aku membuka laptop hitamku sambil mencium aroma kopi panas di gelasku.

--- 

“Diya,” sebuah suara tenang menyapaku yang sedang menekan tombol menyalakan laptop, “kamu kutinggal yah? Aku mau mandi dulu mumpung belum terlalu malam.” Anta mengibaskan bagian bawah kaos lapangannya, sambil sesekali mengibaskan topi kasualnya. Senja barusan yang ditingkahi dengan lari-lari memotret garis pantai, nampaknya membuat keringatnya membuyar banyak.

Aku duduk meraih gelas kopi panasku lalu menjawab, “Ya udah sana mandi. Aku masih harus memindahkan foto kameraku ke hardisk. Nanti jangan lupa bawakan aku cemilan yah. Gorengan juga boleh. Sebelum makan malam biar jangan pingsan di jalan.”

Anta langsung menepuk jidatku sambil menampakkan ekspresi seperti menggerutu. “Dasar tempat sampah!” makinya sambil memelototiku. “Mau makan malam aja pakai diselingi gorengan. Apalagi pasti makannya singkong, gimana ga tambah bengkak tuh badanmu!” 

Belum sempat kubalas, Anta sudah kabur meninggalkan saung. Berlari kecil melewati taman ke arah jalan raya, Anta berbelok lalu menghilang dari pandanganku. Sambil terus menyeruput kopi panas, aku memandangi cakrawala bebas tempat Anta menghilang tadi. Pepohonan kelapa saling ribut menggesekkan daun-daunnya. Bergoyang ke penjuru angin kencang yang mungkin sama kencangnya dengan kecepatan ombak pantai di balik deretannya. Langit tak lagi jingga seperti baru saja. Hanya hitam yang tidak ajaib lagi. Meski tak pekat, tapi cukup melumpuhkan daya imajinasiku yang meledak-ledak di senja tadi.

--- 

Kembali memandangi laptop, aku menggerakkan jariku ke tombol enter. Dan keluarlah layar foto yang sempat aku pindahkan ke hardisk. Cuma foto kelas amatir yang blur dan serba tidak fokus. Kontras dengan jelas dan kuatnya ingatanku tentang momen yang terekam di foto itu. Sepasang kaki yang telanjang tanpa alas apapun. Sepasang kaki yang menginjak pasir basah tanpa gerakan apapun. Sepasang kaki yang memantulkan sedikit bayangan di riak air pasirnya. Bayangan yang ditimpa pantulan jingga di pantai tadi. Kaki itu, hanya sepasang yang saling sejajar. Tidak mewakili ekspresi apa-apa tapi sanggup membingkai sepenggal kata dari hatiku. 

Senja.

--- 

(bersambung…)

»»  read more

Monday, June 24, 2013

Taman Bumi dan Senja #05

Bagian 05

--- 

“Antaaaaaa!” 

Sambil berlari menjauhi Anta, aku mengejar ombak pantai yang bersusulan di bibir pantai. Aku mengejar ombak menjauhi jalan raya, meninggalkan Anta yang baru saja menyandarkan motornya di dekat jalan. Aku tidak terlalu memperdulikan Anta yang masih sibuk melepas helmnya dan menarik kunci motornya. Aku tidak perduli selain pada pemandangan pantai dan ombaknya yang sedang bersusulan ke arah aku berlari.

Aku menikmati setiap jejak kakiku agak terjerambab di atas pasir yang tebal dan basah. Aku menikmati lari kecilku yang semakin tidak stabil saking inginnya cepat menyentuh air dan ombak kecilnya. Sesekali aku melihat anak-anak merebut bola sepak yang tidak berhenti diteriaki dan dimaki pemainnya. Sesekali aku berusaha menarik celana panjangku ke atas sambil berlari kecil menuju air. 

“Diya!” Akhirnya terdengar suara Anta di belakangku. Dari nadanya, aku bisa lihat ia berlari mendekat dan berusaha menyusulku. Tapi aku tidak sedikitpun menoleh ke arahnya di belakang, malah semakin kencang aku berlari ke arah air.

--- 

Matahari kini semakin rendah. Senja dan langit jingga sepertinya tidak membuat suasana hatiku menjadi sendu atau risau. Lagipula, aku tidak terlalu perduli dengan apa yang sedang aku alami hari ini. Aku hanya ingin menikmati kebebasan yang belakangan ini semakin jarang aku rasakan di hati. Aku melepas sandal gunungku, membiarkan kulit jari-jari kakiku terhanyut oleh tarikan riak ombak kecil-kecil ini. Aku sempat berpikir apakah aku harus hanyut dan tenggelam di pantai ini jika itu caranya aku menikmati kebebasanku di atas pantai ini. 

Anta tidak bersuara. Dia di belakangku sambil terdengar tidak terlalu berusaha mengusik kediamanku menikmati jejakku di bawah air. Aku bisa mendengar dan merasakan ia tetap menjagaku di belakang. Meski ia tak lagi mengeluarkan suaranya apalagi menggodaku dengan candanya yang biasa. 

Anta seorang lelaki yang belum lama kukenal. Kami sangat jarang sekali bertemu bahkan jarak antara pertemuan kami pun sangat berjauhan waktunya. Anta seseorang yang bisa banyak berbicara sekaligus bisa banyak berpikir dalam diamnya. Dia tidak terlalu memperdulikan pendapat orang lain tentang dirinya sendiri. Bahkan, dia lebih memilih untuk mendengarkan dan hanya bereaksi atas apa yang aku ceritakan. 

--- 

(bersambung…)

»»  read more

Thursday, June 20, 2013

Taman Bumi dan Senja #04

Bagian 04 

---

“Ayu, mbak pamit dulu yaaa…” 

Aku berat hati rasanya harus meninggalkan beranda rumah Ayu yang hangat ini. Lebih berat lagi karena aku bisa merasakan eratnya pelukan Ayu yang tidak rela aku pergi lagi.

“Ayu sekarang boleh simpan spidol warna kesayangan mbak yang ini. Asal Ayu jangan cengeng dan harus tetap menggambar sampai mbak nanti datang lagi. Yah?”

Sepertinya Ayu sudah semakin tahu bahwa bujukan seperti itu tidak terlalu sederhana untuk diterimanya. Bagaimanapun, Ayu tidak pernah benar-benar tahu pasti apakah aku akan kembali lagi atau tidak ke rumahnya. Kadang, aku pernah bertekad tidak akan membiarkan Ayu kesepian sebentarpun. Tapi kadang, aku tidak bisa mengabaikan kesibukanku yang seringkali memakan waktu dan imajinasiku sendiri. Tidak pasti waktu dan lamanya aku harus memikirkan ini dan itu. Dan tidak pasti pula kapan aku benar-benar santai dan benar-benar sibuk. Ayu sepertinya sudah tahu itu sekarang, dan ia tidak mudah lagi kuhibur dengan hadiah-hadiah yang sederhana. 

Ayu melepaskan pelukannya demi membiarkan aku berdiri hendak berangkat pergi. Aku pura-pura mengabaikan gerakan jarinya yang dengan sigap menyeka bulir air matanya. Aku takut, aku pun tidak bisa menahan tangisku. Aku juga akan merindukannya. Tapi aku bersyukur, momen kebersamaan kami yang barusan saja itu bisa aku maknai dalam-dalam. Semoga Ayu akan mengerti bahwa aku menikmati keberadaannya dan kesenangannya. Ayu selalu jadi teman berharga untuk perjalanan karyaku yang berikutnya. Aku selalu begitu jika tentang mengenang sesosok Ayu.

(bersambung)…

»»  read more

Thursday, June 13, 2013

Taman Bumi dan Senja #03

Bagian 03 

---
“Diya”, ibu menyebut namaku sambil terus menyisir rambutku yang selalu kusut saat sore tiba seperti sekarang, “kamu akan selalu bisa membuat ibu bangga dan bersyukur setiap harinya.”

Aku asyik meneruskan membaca buku cerita anak yang sudah kusam dan lusuh. Aku membaca paragraph cerita di buku itu tanpa memperhatikan benar apa yang baru saja diucapkan ibu. Tentang beliau yang berkata tidak pernah merasa kecewa akan setiap tindakanku. Tentang beliau yang sampai akhir usianya tidak pernah berhenti mengatakan syukurnya karena aku satu-satunya putrid yang ibu miliki. Tentang beliau, ibuku, yang setelah ia tiada, aku justru semakin merindukannya di setiap malamku hingga kini.

Ketika aku begitu nyamannya membalik buku cerita anak itu sambil mengunyah permen coklat, ibu membuatku merasa semakin nyaman karena rambut kusutku mulai tergerai lembut dan siap dikuncir kuda. Aku tanpa berpikir susah, tanpa menoleh dari halaman buku cerita, berbalik menjawab ibu.

“Diya kan kadang juga nakal, buk. Diya sering bikin temen Diya kesal dan memusuhi Diya. Ibuk pasti pernah juga kan kesal sama Diya. Ya kan, Buk?” Sambil meneruskan ketertarikanku akan gambar-gambar di buku cerita, aku menunggu jawaban ibu di belakangku.

Ibu merapikan kunciran rambutku, lalu meletakkan sisirnya. Kemudian dengan hangatnya, ibu memelukku damai dari belakang. Seperti biasanya, ibu selalu berbisik lembut di dekat telingaku.

“Diya itu selalu membuat ibu bangga. Kenapa? Karena Diya terus dan terus belajar jadi lebih berani dan lebih pandai.” Ibu lebih erat lagi memelukku sementara aku mengunyah permen coklatku.

“Dan Diya selalu membuat ibu bersyukur, karena Diya dianugerahi Tuhan perasaan sayang untuk memaafkan orang lain, dan mau meminta maaf untuk siapapun.”

--- --- ---

Ibu,
Di mana kasih yang paling meninggikan kepercayaanku akan kasih sayang ?
Di mana pula kesabaran yang menguatkan rasa sayangku sehingga tidak menghakimi ?

Selalu saja itu rasa dan eksistensi yang aku rindukan ketika ibu tidak ada di dunia lagi. Aku selalu bertanya-tanya, apakah aku masih anak yang dibanggakan ibu setelah semua kelalaian dan kesalahanku hingga dewasa. Apakah ibu masih bersyukur akan aku sebagai putrinya setelah aku begitu lama menangisi dan menyesali kepergiannya.

Aku ingat ibu tidak pernah mengatakan bahwa aku anak perempuan yang biasa saja. Ibu selalu saja yakin bahwa aku aku akan jadi pengasih yang tidak pernah kesepian. Sementara dari hari ke hari, tahun ke tahun, aku semakin enggan memikirkan apa yang paling aku inginkan sejak kepergian ibu.

--- --- ---

“hanyalah malaikat,
..yang slalu jadi pelindung,
..buatku..
Malaikatku…”

--- --- ---

“Mbak Diyaaaaaaa….!”
Sebuah teriakan panjang tiba-tiba menyentakkanku dari lamunanku.

“Mbak Diya, kasih nilai dong buat gambarku yang iniii!”

Tiba-tiba Ayu sudah ada dipangkuanku, memamerkan gambar warna-warninya. Ayu bahkan langsung meletakkan sebatang pensil kayu di telapak tanganku. Ayu, aku bersyukur menemukanmu sedekat ini.

(bersambung…)

»»  read more

Friday, May 31, 2013

Taman Bumi dan Senja #02

Bagian 02

---

Di sini aku berada. Di atas teras berlantaikan semen plester. Tanpa keramik dan teksturnya sedikit melukai kulit mata kakiku. Menjulurkan salah satu kakiku yang lainnya di tepian teras, jatuh ujung jemarinya ke atas tanah agak berpasir. Sementara daun kuping gajah yang tertiup angin, sesekali menggelitik daun telingaku yang asik menikmati sore menjelang senja. Teras yang teduh dan terlalu kusam itu seperti tidak penting lagi karena aku bisa menemukan senyum dan warna-warni gambar tangan bocah perempuan bernama Ayu itu. Aku bisa melihat matanya berbinar seperti hendak menenggelamkan dirinya lebih banyak ke dalam kertas gambarnya. Aku bisa menemukan bulu matanya lentik agak berdebu, dan alis matanya yang tebal seperti kegigihannya menantang panasnya cahaya sore di semen tempat ia duduk menungging sambil menggambar. Ayu adalah cantik dalam dekilnya, cahaya dalam kusamnya, dan berkilau dalam biasanya. Dia adalah seorang pemimpi yang berani. Pemilik karya bergambar yang tidak pernah puas hanya dengan satu atau dua warna. Ia membutuhkan banyak warna dan gambar mata untuk menunjukkan betapa ramai keceriaan di benaknya. Ia menuangkan semua gagasannya akan pantai sekaligus juga gagasannya akan nenek kakeknya yang telah tiada. Semua dengan warna yang sama, dalam satu kertas gambar yang sama, seolah tidak ada pernah benar-benar pergi dari ingatannya. Seperti itulah Ayu bisa berubah menjadi sesosok bocah perempuan yang mampu membiusku dalam bisu yang berhasrat. Ayu membuatku terlarut dalam keberanian lagi untuk menggambar lebih banyak imajinasi dan impian. 

(bersambung)…

»»  read more

Wednesday, May 29, 2013

Taman Bumi dan Senja #01


Bagian 01
---
Pertemuan seharian itu di aula pertemuan Hotel Jayakarta Bandung baru saja selesai. Kami para pengisi acara dan panitia sedang asyik menghabiskan camilan yang masih tersisa dari coffee break terakhir. Sore semakin mendung terlihat di balik tirai jendela ruangan.Jabat tangan dan saling berfoto tampaknya jadi pemeriah suasana di ujung ruangan. Sedang aku masih lebih memilih mengunyah camilanku sambil merapikan laptop dan buku catatanku. Saking asyiknya, aku sampai tidak memperhatikan seorang pria tengah baya yang sedang mendekati arahku.

“ Mbak Diya… “ sapaanya agak mengejutkanku. Dengan senyuman hangatnya, pria itu menjulurkan tangannya hendak menjabat tanganku. Ciri khas dialog nusantara.

“ Pak Adri. Apa kabarnya?”, aku balas menjabat tangannya sambil berusaha menyelesaikan kunyahan camilan di mulutku.

Setelah itu, kami pun lama sekali berbincang tentang sebuah proyek wisata yang sedang aku kerjakan bersama timku di desa tempat asal Pak Adri. Desa yang saat ini sedang jadi topik utama selama pertemuan di hari itu. 

“ Jadi, kapan Mbak Diya akan mampir lagi ke desa kami?” Pak Adri sangat rendah hati sekali tanpa pernah bosan mengundangku mampir dan bermain di desanya.

“ Saya pasti mampir dalam waktu dekat, Pak Adri. Apalagi, setelah pertemuan hari ini, pasti akan ada program kegiatan yang harus saya kerjakan dengan bantuan orang desa dan Bapak.”

Selanjutnya, memang sangat menyenangkan ketika kehadiran kita sangat dinantikan oleh sekelompok komunitas di tempat kita berkarya. Aku tersenyum sambil erat menjabat tangan Pak Adri, sebelum akhirnya saling berpisah. Bagaimanapun, Pak Adri memiliki desa yang sangat hangat seperti juga sosoknya. Pak Adri telah banyak sekali membuat pekerjaanku dan karyaku selama di desa, menjadi penuh senyum dan keinginan berbagi cerita.

---

Ada satu hari di mana aku memiliki pengalaman luar biasa di desa tempat Pak Adri dan keluarganya berasal. Mungkin aku belum sempat bercerita bahwa desa yang hangat dan tulus itu bernama Desa Babakan. Sebuah desa kecil yang letaknya sangat dekat dengan Pantai Pangandaran. Desa yang katanya memiliki potensi besar sebagai gerbang kawasan wisata Pantai Pangandaran Jawa Barat.

Hari itu aku menyusuri permukiman nelayan di Desa Babakan. Aku melewati deretan rumah-rumah rakyat modern yang sederhana dengan pekarangan luas. Antara rumah satu dengan rumah lainnya, sama sekali tidak dibatasi oleh pagar. Terbuka, membaur, dan pekarangannya diramaikan oleh anak-anak nelayan yang asik berlari-lari dari pekarangan satu ke pekarangan lainnya. Sesekali, anak-anak itu berlarian sambil bersembunyi di balik kait dan jalan yang bergelantungan di teras rumah. Pohon-pohon kelapa dan nangka, tersebar banyak di seluruh pekarangan seolah menjadi peneduh atap-atap rumah mereka. 

Aku mengayuh sepedaku lambat-lambat. Menyusuri jalan permukiman yang hanya tanah berbatu besar tanpa terhalang parit ataupun pagar apapun. Hanya jalan terbuka yang berbaur dekat dengan pintu muka rumah-rumah nelayan di desa itu. Sesekali aku membenarkan letak caping, topi anyaman bambu di atas kepalaku. Caping yang kudapatkan dengan membujuk satu anak nelayan. Caping yang diatasnya tertulis besar nama anak yang memilikinya sebelum akhirnya berhasil melekat di atas kepalaku. Ujang namanya. 

---

“Mbak Diyaaaaaa… … ,” tiba-tiba aku mendengar namaku sayup sayup dipanggil dari kejauhan. Sambil menurunkan satu kakiku dari sadel sepeda, aku berhenti dan menoleh ke arah asal suara itu.

“Mbak Diya main siniiii…!”

Sambil tersenyum lebar, aku melambaikan capingku ke arah satu pekarangan rumah. Rupanya itu teriakan panggilan dari bocah yang sedang bermain di teras rumahnya. Bocah perempuan yang tidak pernah diam setiap kali kupamerkan gambar-gambar berwarna selama ini. Bocah perempuan yang pernah dimarahi ayahnya karena mencuri peralatan mewarnaiku saat ketahuan sedang menggambar di kamarnya. Bocah perempuan bernama Ayu itu tidak pernah bisa menghentikan tangannya ketika asik menggambar denganku. Yah, mungkin menggambar dan mewarnai adalah dua hal yang paling aku kuasai di desa ini. Karena keduanya bisa mendekatkan hatiku dengan jiwa-jiwa tulus dari desa nelayan ini.

“Mbak Diya kesini yuuuuukkk… Kita maiiiiinnnn…!” Ayu terus berteriak tanpa sedikitpun membiarkan aku melanjutkan perjalanan bersepedaku karena terbujuk rayuannya untuk singgah dirumahnya lagi.

Sambil mengenakan capingku kembali, aku mengayuh sepedaku memasuki halaman rumah keluarga Ayu. Menyandarkan sepedaku, lalu meletakkan capingku di keranjang depan. Mungkin, ini tempat istirahatku yang pertama untuk sore ini di desa. Semoga aku bisa melanjutkan perjalananku nanti sebelum senja terlalu jingga.

---

Bersambung...

Foto yang kuambil ketika aku menyusuri jalanan kecil Desa Babakan.
Sebuah desa nelayan yang dipercaya bisa menjadi potensi desa wisata mendatang.
-@wiedesignarch-




»»  read more

Sunday, May 20, 2012

Film : Love, Wedding, and Marriage



Siang ini, sesampainya aku di jakarta, tiba-tiba dikejutkan dengan wajah Mandy Moore di layar televisiku. Sudah lama rasanya tidak melihat wajah yang melow di kisah romantis "A Walk To Remember" ini.


Judul film ini, semakin mengundang tanya tentang filosofi cinta yang ingin disampaikan film non-serius ini. Dan mandy tampil berbeda dengan rambut gelap dan badan berisinya.


Mandy memerankan seorang terapis pernikahan bernama Ava Dalton. Ava yang serba dikenal sempurna dalam pernikahannya, harus panik dan terobsesi ketika mendengar bahwa ayah ibunya terancam akan bercerai.


Dialog pertengkaran Ava dan suaminya, Charlie.

"Siapa yang kamu perjuangkan, aku atau pernikahan kita?"

"Bukankah itu sama saja?"

"Tidak. Itu berbeda. Kamu memperjuangkan pernikahan kita terlihat sempurna agar orang lain membenarkan terapi yang kamu berikan pada mereka."


Dialog Ava dengan ayahnya.

"Ibarat anggur terbaik.

Dia tidak diberi air, melainkan diberi panas matahari terus menerus. Untuk memisahkan yang terkuat dari yang terlemah. Cinta terkuat bertahan di saat terburuk... "


Dialog Ava dengan adiknya yang badung, Shelby.

"Aku tahu ava dalton tidak sempurna dan aku mengetahui itu selama 25 tahun kita bersaudara, dan kurasa kau harus membiarkan orang lain mengetahuinya."


Published with Blogger-droid v2.0.4
»»  read more

Wednesday, May 16, 2012

Film : Ramona and Beezus

Melihat kelucuan dan kelincahan seorang gadis kecil bernama Ramona ini benar-benar mengingatkanku akan sosok Mei dalam anime Tottoro. Lucu, energik, dan hiperaktif...


Entah bagaimana, apa yang disentuh dan dikerjakan si kecil Ramona selalu berujung pada keonaran dan kekacauan. Tapi si kecil Ramona tidak pernah berkecil hati. Dia selalu terobsesi akan pemadam kebakaran.


SCENE FAVORITKU ?


Ditemani ayahnya yang pengangguran karena baru kehilangan pekerjaannya, Ramona menggambar dengan krayon warna, diatas gulungan kertas yang disebutnya gambar terpanjang di dunia.


SIAPAKAH BEEZUS ?


Berbeda dengan sang adik (Ramona), Beezus adalah remaja cantik yang sangat manis. Beezus seringkali menjahili adiknya, tapi ia selalu mengagumi spontanitas dan keberanian Ramona.


© widyarin kusumaningtyas


Published with Blogger-droid v2.0.4
»»  read more

Wednesday, May 9, 2012

Satu Hari yang Kusyukuri




Hari ini aku merasa sangat beruntung... Akhirnya aku akan punya kesempatan lebih dalam menulis blog atau miniblog.

Hari ini, aku mulai ditemani android mobile. Dengan kepraktisan dan kemampuan teknologinya, aku bisa memiliki peluang lebih baik dalam menuliskan rekaman cerita dan imaji yang kupunya.

Kawan pembaca, bisa dibilang untuk saat-saat belakangAn ini, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku di tumblr blog. Mungkin karena fitur social networknya lah yang banyak memberi kemudahan dan kesempatan luas untuk berinteraksi.

Salam sore kawan, semoga senja kalian dan hari hari setelahnya, menjadi hari-hari terbaik kalian juga.

Published with Blogger-droid v2.0.4
»»  read more

Friday, May 4, 2012

Aku Ingin Jadi Ratu untuk Duniaku


Kali ini aku menulis ditemani musik dari "Bonita and The HusBAND yang berjudul Pesan untuk Pram. Tadinya mau memutar lagu dari Efek Rumah Kaca, tapi sepertinya lagi rindu dengan suara ibunda Bonita yang ini. ^__^
-----
Jika ada satu orang yang kudengarkan menyatu dalam aksinya dan profesinya, aku mengagumi Bonita juga lho. Dia punya suara yang menularkan kesejukan dan kehangatan, dia juga punya keluarga yang terekspos dengan ketulusan. Bonita, lagu Pram yang ini sungguh sering menjadi penghantar tulisan-tulisanku. ^__^
------
Terbayang tidak? Seandainya kita bisa menemukan apa yang paling membuat kita bahagia dalam melakukannya. ENtah itu hobi atau karir. Jika kita bisa menemukan hasrat di atasnya, maka terpancarlah energi yang berkali-kali lipat sebagai hal positif. Tanpa berusaha dengan terlalu terkesan berusaha, kita bahkan mampu menghipnotis pendengar kita seolah sukacita menceburkan diri mereka pada dunia kita. Imajinasi kita yang liar merayu mereka, dan energi penjiwaan kita yang menggebu seperti mengajak mereka bersenang-senang dengan dunia kita.
-----
Aku selalu ingin menjadi seperti itu. Aku selalu ingin menjadi yang berkisah dengan sepenuh hati. Aku selalu ingin bisa mengeluarkan apa yang aku pikirkan di kepalaku, yang aku degupkan di debaran hati ini, dan apa yang memompa jantungku semakin cepat di dada ini. Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa selain siapa aku sendiri. Ingin bisa menyampaikan bahwa aku adalah ratu atas sebuah dunia. Bahwa aku memiliki dunia kekuasaan yang pantas disinggahi. Aku ingin sepenuh hati mengenalkannya tanpa takut. Aku ingin menjadi ada dan berarti, untuk sebuah dunia, apapun dunia itu.
-----
@wiedesignarch
-----
"Kesulitan tak pernah menjadi sesulit ini manakala hati ikut menjadi partner dalam menjalaninya" |  Adenita; 23 Episentrum; Hal:16.
»»  read more

Menulis Posting Demi Pencerahan


Sesuatu yang aku sadari dengan tulisan postinganku belakangan ini. Kadang dimulai dengan ngelantur, kadang pulang dimulai dengan kata acak. Yeah well, bisa dibilang, ini sangat diluar pola menulis posting yang biasa aku lakukan.
---
Pernahkah kalian membayangkan, aku selalu membawa kertas kecil dan drawing pen ketika di angkutan umum. Aku mencoret-coret bubble skematik tentang hulu dan hilir dari setiap tulisan pendekku. Segala dimulai dari sebab dan alasan, lalu terbentuk suatu keputusan dan tujuan di ujungnya. Bulatan/bubble, tanda panah, dan garis bawah; secara serius aku coretkan membentuk skema di kertas kecilku. 
---
Tapi entah sejak kapan baru-baru ini, aku melepasnya sama sekali. Tidak ada kertas, atau drawing pen. Yang ada hanya layar hape atau laptop, yang bisa kuisi dengan apa saja kata-katanya. Dan satu lagi, aku mem-peka-kan diri pada tulisan buku dan subtitle film-film di channel TV. Mungkin ini bukan cara pintar sama sekali, tapi justru itu bagusnya. Aku mengikhlaskan diri menjadi bodoh kembali. Menyerap sekuat-kuatnya, tanpa ketakutan akan salah yang ditemukan pembacaku nantinya. Bisa dibilang, aku sedang bosan menulis kebenaran menurut kotak-kotak persepsi pembaca. Menulisku, adalah caraku membuka semua pintu yang selama ini aku tutup rapat demi menjadi terlihat pintar.
---
"Membiarkan harinya berjalan tanpa dikejar waktu. Ia berdoa agar perjalanannya kali ini bisa mencerahkan hatinya. Ia sudah berjanji akan memberikan perhatian kepada apapun yang ada di dekatnya. Ia akan berbicara pada orang yang tak dikenalnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Terkadang berbahaya memang bicara pada orang tak dikenal. Tapi justru pada saat itulah, hati akan belajar melakukan sensor." | Adenita; 23 Episentrum; Hal:97.
»»  read more

Mencairkan Hati dengan Mendengar dan Melihat


Pernahkah kita merasa, bahwa kita terlalu mudah menebak kegiatan hidup kita, kemudian mulai terbiasa untuk nyaman dengan perolehan kita setiap harinya. Entah itu perolehan jasmani, ataupun perolehan peningkatan eksistensi sosial. 
---
Kita menjalani hari, dengan lebih mudah mengontrol waktu 24 jam, lebih tepat mengetahui cuaca lewat ramalan, dan lebih uptodate dalam penyerapan informasi dan komunikasi. Dan tanpa sadar, semua jadi seperti sudah tersedia di depan mata. Kita pun, terbiasa untuk beradaptasi dan menjadikannya sebagai rutinitas tanpa kejutan.
---
Dalam kondisi nyaman seperti itu, pernah terpikir bagian apa dari diri kita yang semakin lapar dan melemah? Ia adalah hati, nurani, dan insting berjuang. Bahkan, dramatisnya, hati dan nurani paling rapuh itu, terbungkus kebutuhan jasmani yang berlapis-lapis. Bayangkan, setiap hari kita semakin bisa mengatur kebutuhan duniawi, dan kita semakin bisa mengkalkulasikan pemenuhannya di setiap tingkatan. Orang miskin semakin memenuhi kebutuhan hidupnya (dalam hal ini adalah nyawa), dan orang kaya semakin rajin menghitung investasinya yang berpangkat-pangkat.
---
Hati, benda itu bernama hati. Benda itu, berdetak dan semakin melemah. Ia lemah karena kenyamanan dalam bungkusan benda lain. Ia lemah karena tidak menggunakan syaraf-syaraf keikhlasan tentang gagal dan jatuh. Ia lemah karena tidak menumbuhkan syaraf perduli dan peka pada hal-hal sederhana. Benda bernama hati itu, kini seperti janin yang tertidur kembali dalam rahim tebal bernama kemapanan, bernama kebutuhan raga.
---
Hati kita, patut diajak berdialog. Diajak bercengkrama dan berdebat. Perdebatkan ia dengan kekritisan dan uji kepekaan. Kenapa manusia kini lebih pandai berpolitik dan mendebat atas nama negeri, sementara mereka tidak pernah memperdebatkan batinnya, nuraninya. Bukankah hati lebih dulu datang sebelum kebutuhan. Bukankah hati juga yang lebih dulu datang sebelum kematian? Hati, ajaklah ia lebih sering ke kancah pertunjukan. Lemahkan ia sesegera mungkin. Dan kuatkan ia sesering mungkin. Karena dengan mudah ditebaknya perjalanan menit ke jam, hati menjadi malas dan tertidur. Perlahan, kita tergantikan oleh robot dan program. Yah, mereka efisien, dan tidak mengandung kesalahan / kriminal emosi.
@wiedesignarch
---
"Mungkin... gue perlu orang yang bisa mencairkan hati gue yang udah keras ini. Gue perlu melihat lebih banyak. Mendengar lebih banyak." | Adenita; 23 Episentrum; Hal:96.
»»  read more

Thursday, May 3, 2012

Kata-kata Yang Tidak Berhingga


kata kata, selalu mengandung makna yang tidak bisa dihentikan pada jumlah angka, atau juga jumlah huruf itu sendiri... kata-kata, adalah hal yang membuat kita mensyukuri dunia ini dan berani menghadapi dunia ini... 
---
@wiedesignarch
»»  read more

Menghakimi Diri Sendiri adalah Penghancuran Diri


Ada satu quote dari sebuah film romantic ala Manhattan yang satu  ini. Sebuah pernyataan yang mendasarkan pada bagaimana kebanyakan orang menghakimi lingkungan dan diri mereka sendiri. 
---
Lupakan tentang apa yang seharusnya kita tahu benar, dan apa yang seharusnya kita pahami itu salah. Lupakan tentang benar dan salah. Tapi, aku pribadi, seringkali memutuskan sendiri secara sepihak tentang siapa aku. Kadang-kadang aku sakit hati dengan bagaimana orang lain menilai keterbatasan dan ketidakmampuanku, tapi kadang-kadang aku menjadi terlalu santai dengan kipasan sanjung orang lain tentang diriku sendiri. Ada banyak yang aku anggap memujiku, menaruh harapan besar pada kepribadianku, dan menyandarkan kisah semata ingin aku mengatakan tanggapanku secara personal. Ada juga yang menertawakan kebodohanku, mempermainkan kecanggunganku, dan berkata sinis tentang caraku memakai kosakata.
---
Setiap reaksi itu, melahirkan keputusan dan penilaian aku tentang siapa aku. Aku menghakimi diriku sendiri. Aku mengambil keputusan tentang seharusnya aku bertindak apa, penegasan apa yang harusnya aku tonjolkan, sikap apa yang harusnya aku miliki untuk "kepribadianku" (menurut penilaianku sendiri).
Tidak tahu, alasan apa yang aku ingin capai dengan postingan ini. Selain aku ingat satu hal : aku selalu bersabar sampai penghabisan tentang bagaimana atasanku bisa membaur denganku untuk mengoptimalkan performa terbaikku di lingkungan kerja dan karirku. Tapi anehnya, aku seringkali terlalu cepat membiarkan diriku sendiri memutuskan siapa aku dengan manuver-menuver ekstrim.
---
Kalau kalian sadar, dua hal di atas itu merupakan paradoks terbesar dalam pembentukanku. Ada yang menguatkan aku pada posisi rendah hati dan menunjukkan ketekunan, tapi ada yang menghancurkan diri sendiri dengan keputusan emosional yang cenderung sulit dikontrol. Dua paradoks ini, mungkin dialami orang lain juga. Dan aku, sekarang pada tahap ingin mengenali semua "penghancuran diri" yang pernah aku patenkan dalam diri sendiri ini. 
---
@wiedesignarch
------
"Pekerjaan kita tidak menentukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Yang menentukan siapa kita, adalah ketika kita bangkit dari satu kejatuhan." | Maid in Manhattan, a movie stared by Jennifer Lopez.
»»  read more

Wednesday, May 2, 2012

Alasan Tentang Memilih Seseorang Itu




Tidak pernah menyangka, suatu hari menemukan paragraf praktis dan anti-mendayu, yang menyampaikan inti dari semua maksud dan tujuan kita memilih pilihan kita tentang seseorang. Yah, tentang seseorang yang memang kita pilih sebagai teman dan sahabat sampai menjadi tua. Teman bersandar, teman berkasih sayang, teman mengarungi ujian terberat, dan teman menaklukkan dunia dan cita. Teman hidup, sekaligus teman berpasangan jika itu untuk kisah ini.


Membaca kutipan atau penggalan kisah ini, semua semakin jelas mencuat keluar dari ambiguitas. Keluar dari kepura-puraan dan tulus mengakui kebutuhan akan seseorang. Tidak melebih-lebihkan pendambaan, juga tidak terlalu banyak mencari perumpamaan. Hanya kalimat praktis, yang intinya, kita perlukan seseorang yang bisa memberi kita sudut pandang yang berbeda tentang memaknai hidup kita. Sendiri, mungkin kita berusaha keras untuk membentuk pandangan. Tapi bersama dia, kita lebih punya alasan untuk menoleh dan menggunakan posisi pandang yang berbalikan sekalipun. 

@wiedesignarch
------
"Orang lain menganggap hidupnya serba sempurna. Baginya, ini adalah kebahagiaan semu. Ia ingin merasakan cinta. Ia ingin tembok arogansi dalam dirinya runtuh. Ia rindu merasakan kehangatan hatinya. Rindu untuk merasa pilu melihat korban gempa, rindu untuk merasa iba pada seorang ibu yang menggendong anaknya di pinggir jalan. Ia merasa rindu untuk menangis haru karena bahagia. Ia rindu pada perasaan seorang manusia yang perduli." | Adenita; 23 Episentrum; Hal:94
»»  read more

Playboy Labil yang Sempat Jadi Inspirasi



Inget banget aku dulu, pas masa kuliah tahun 2003an, aku kenalan di dunia maya sama cowok band yang namanya Gilang (samaran dari Gigi Ilang). Kenalan via dunia maya ini, berujung pada persahabatan virtual lho selama 2 tahun. Dua tahun kami cuma saling punya nomor hape dan enggak pernah sekalipun niat buat ketemuan satu sama lain. 

Gilang ini orangnya ngaku playboy, itu juga alasan aku gak pernah kepikir sama sekali buat ketemuan. Orangnya cuma pernah aku lihat fotonya by email (tukeran foto pas masa MIRC masih populer banget (tsah, jadul beut).

Bener aja! Pas sekalinya kita ketemuan, doi pasti dan selalu bilang gini ke aku: "kenalin aku ke cewek cantik dunk. Pasti ada kan temenmu yang lagi jomblo." Selaluuuu begitu. Bahkan kalau saja hapeku waktu itu bukan monokrom, dijamin pasti dia udah lihat-lihat galeri foto hape sambil nanya "ini siapa? cantik" atau "ini kok manis yah, kenalin dunk ke cewek ini." Hufft... temen yang klise, yang sama sekali gak mau aku kenalin sama kawan2 kampusku.

Yeah, gimanapun juga, Gilang ini orangnya gak bisa bohongin aku juga. Orangnya gak tegaan tapi suka bikin ilfil cewe yang lagi bosen dipacarin dia. Belom lagi, orangnya juga terlalu gampang galau kalo lagi jomblo bentar. Belum lagi, dia juga orang yang sering terlalu sering njadikan aku tempat sampah buat curhatannya selagi jomblo. Kalo aku sih, yah sabar2in, kadang malah kebawa simpatik dan kasihan ama kondisi dia yang labil gitu.

Bisa dibilang, dia cowo pertama seumur2 hidup aku masa itu, yang bikin aku dapet banyak puisi, lagu, dan sajak. Bisa dibilang, diaryku masa itu lagi penuh2nya. Dan bisa dibilang juga, dia satu inspirasi yang paling besar buat jadi sejarah awal aku menulis romantika. Anaknya emang terbilang tega karena ngacuhin ke"cewek"anku. Tapi juga bisa dibilang lucu, karena entah apa rapuhnya banyak mengilhami tulisanku.

Sekarang, doi udah merit. Dan alhamdulillah banget. At least, setelah merit, dia gak bikin kupingku panas lagi dengan bilang "kenalin aku sama cewek cantik dunk, temenmu ato sapa kek!" #geram
@wiedesignarch
------
"cinta itu jorok... Dia ada di mana aja, enggak kenal tempat. Siapa tahu cocok. Buka mata, buka hati... rasain di sini," kata Oki sambil menaruh telapak tangan kanannya di dada.  |  Adenita; 23 Episentrum; Hal:92
»»  read more

Thursday, April 26, 2012

Arsitek tentang Perspektif, Improvisasi dan Humanitas



::: peniruan tanpa malu...
ini benar adanya, dan aku sangat merasakan prihatin yang luar biasa... tapi juga bingung dengan cara mereka yang dengan bangga menjajakan tiruan-tiruan mereka... yang harfiah, mentah, dan tanpa penjiwaan....
Bagaimanalah hendak kita berkisah pada generasi setelah ku., tentang rumah besar bernama raja romawi, tentang gaya tiang megah laksana istana yunani, lalu gaya balkon barbie laksana kisah shakespeare dulu.
Kemana aku harus mengkiblatkan daya tarik mereka.. ketika hendak ku senangkan ilmu mereka tentang rumah adalah jiwa sahaja pemiliknya, genteng tanah merah adalah kecerdikan pekerja kita, sirap dan kanopi kecerdikan leluhur kita yang diadaptasi penjajah kita sekalipun.. 
Bahkan ketika negeri kita memiliki museumnya yang besar tentang adaptasi penjajah terhadap kecerdikan pribumi kita dahulu, contoh-contoh itu perlahan pasti kalah oleh etalase-etalase kaca.
Prihatin....

::: Arsitektur bukan hanya ruang-ruang, bentuk bentuk yang indah, serta ekspresi kreatifitas. Lebih dari itu, ia adalah manusia-manusia dan kehidupan..
Benar dan indah adanya. Arsitek adalah manusia yang terbeli karena gagasannya, penjiwaannya, penalarannya, dan pemahamannya... Sedikit yang mengerti itu di masa kini, entah dimasa depan nanti. Ketika ada yang rendah diri mendengar gaung arsitek, sepatutnya kita mengingatkan mereka tak pantas merasa kalah karena mereka individu dengan gagasan dan karya. 
Ketika ada gema bahanan merendahkan arsitek sebagai tukang gambar, maka kita perlukan sikap memberi mereka kebebasan mengeluarkan ide mereka lalu mengarahkan salaknya....
Arsitek, kebanggaanku adalah pada perspektifnya, improvisasinya, bahasa universalnya, dan humanitasnya... Identitas dan ego pun tak kalah jadi pembelajaran dalam kematangan karya dari hari ke hari. Sadarkan itu selalu ada dalam ingatanku sendiri...

===
Tulisan komentar yang kusampaikan, terinspirasi oleh tulisan mas Arya Poetra dalam Mana Identitas Arsitektur Kita ?
»»  read more

Thursday, September 22, 2011

Letih Mencari



Spend all your time waiting
For that second chance
For a break that would make it okay
There’s always one reason
To feel not good enough

Senja ini, usiaku kian terasa sepi. Ada yang hilang dari kehidupan yang tengah kuselami. Aku berharap akan cerahnya hari, namun tak bisa kutemukan cahaya yang mampu menerbitkan bahagia. Hanya rindu, kehilangan, dan sungguh hari tak pernah berseri.


And it’s hard at the end of the day
I need some distraction
Oh beautiful release
Memory seeps from my veins
Let me be empty
And weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

Ketika jingga warna senja mulai mengintip sela jendelaku, terbit sedih yang menguasai hati. Kemana kah akan kubawa hari yang terlalu sunyi ini. Kadang malam yang menjemput pun seperti tahu aku hanya singgah karena tersesat. Aku menunggu apakah gerangan? Begitu bintang dan bulan bertanya padaku dibalik bingkai jendela. Malam yang sunyi, namun tak jua kuhiasi dengan keceriaan. 


In the arms of an angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort there

Aku sering menuliskan beberapa sajak, tentang kebebasan dan terbang tanpa batasan. Namun tak juga tujuan nampak terlihat jelas. Samar selalu seperti terlalu jauh menyeberangi horison. Aku dan kebebasanku seringkali terlalu letih menduga-duga di manakah ujung semua harapan.




»»  read more
My Room (42) Curhat (21) Ribet (21) Bacaanku (20) Teman2ku (20) Quote (16) Love (14) MyProsa (14) Jalan-jalan (11) Arsitektur (9) Islamic (9) Bioskop (8) Memotret (5) Bernyanyi (3) Design (3) Year Ended (3) Akubaru (2) Movie (2) UlangTahun (1)
My photo
Di blogger world ini, aku cuma ingin merekam karya, merekam persahabatan, dan merekam proses kehidupanku. Semoga semua bersedia berbagi bersamaku dan blogku. ^_^